Selasa, 16 Februari 2010

Muhammadiyah Pertimbangkan Gelar Kiai

Sebagai organisasi kemasyarakatan Islam yang besar dan modern, Muhammadiyah tidak hanya fokus pada kalangan elite. Menurut Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof Syafiq A Mughni, ormas Islam yang didirikan KH Ahmad Dahlan seabad yang lalu itu juga memberi perhatian serius pada masyarakat lapisan bawah.

"Karena itu, Muhammadiyah sedang mempertimbangkan pemakaian gelar kiai bagi juru dakwahnya. Kita memang tidak mungkin hanya melakukan dakwah pada kalangan elite. Kita juga melakukan dakwah kultural untuk masyarakat di lapisan bawah, tutur Syafiq di Kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), akhir pekan lalu.

Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo itu menegaskan, dakwah bagi masyarakat menengah ke bawah bisa dilakukan dengan berbagai cara. Bahkan, tidak sedikit yang dilaksanakan melalui pembinaan secara riil dan insten-sif. Diakuinya, dakwah kultural masih belum memberi hasil yang maksimal.

Sebagai indikator, papar dia, belum banyak lapisan masyarakat bawah di daerah-daerah terpencil yang menerima Muhammadiyah sebagai organisasi kemasyarakatan keagamaan dengan baik. Tingkat akseptabilitas masih rendah," ujarnya. Kondisi itu mengantarkan posisi Muhammadiyah di daerah pada kalangan tertentu saja.

Bahkan, juru dakwah dan tokoh-tokoh Muhammadiyah di daerah terpencil kesulitan untuk melakukan pendekatan secara khusus pada masyarakat, karena komunikasi yang perlu diperbaiki. Syafiq sepakat perlunya melakukan rekonstruksi strategi dakwah pada masyarakat lapisan bawah.

Strategi khusus itu, tutur dia, salah satunya dengan pemakaian gelar kiai. "Ide pemakaian gelar kiai mungkin perlu dipertimbangkan. Sebab, masyarakat kita lebih percaya pada penyandang gelar kiai ketimbang gelar profesor," papar dia.

Pendidikan Islami

Sementara itu, selebritis yang aktif berdakwah, Neno Warisman, menyesalkan semakin banyaknya orang tua yang menjadikan dan menganggap anak-anak sebagai bahan material. Padahal, menurut dia, anak adalah makhluk spiritual. Menurut dia, sebagian orang tua tak mendidik anak-anaknya dengan menggunakan pola keteladanan yang berpedoman pada acara Islami.

Karena itu, terang Neno, saat ini semakin banyak anak muda yang perilakunya semakin jauh dari nilai-nilai agama. "Peradaban Indonesia tak maju sebab generasi sekarang kualitasnya tak dapat bersaing. Itu bermula dari kesalahan pola asuh orang tua yang berdampak pada menurunnya kualitas hidup anak kecil," paparnya seusai menjadi pembicara seminar pendidikan karakter anak di Balaikota Surabaya, Ahad (14/2). asan haji, enk purna-na putra, ed he

Sumber:
Republika
koran dot republika dot co dot id /koran/14/104110/Muhammadiyah_Pertimbangkan_Gelar_Kiai

1 komentar:

  1. Gelar kiai memang terasa lebih tinggi dan sakral khusunya bagi masyarakat Jawa. Tetapi menurut saya gelar kiai bisa terkesan lebih "mengkultuskan" pada kenyataannya di masyarakat saat ini, kata kiai pun sering dijadikan nama2 keramat pada beberapa kalangan kaum jawa seperti senjata, barang2 dan hal2 yang dianggap mempunyai tuah. lebih baik kita (Muhammadiyah) tak perlu ikut2an lah gelar Ustadz atau GUru rasanya masih lebih bagus... Yang penting cara berdakwanya lebih "disantunkan" dan beretika, tutur kata yang lembut, perilaku yang bener2 meneladani Rasulullah...Isnya'Allah lebih afdlol..Tetap semangat Para Da'i Muhammadiyah.

    BalasHapus