Tampilkan postingan dengan label Uswatun Hasanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uswatun Hasanah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Juli 2011

The Spirit of Islam

Oleh: Drs. Usman Kasmin

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ﴿١١﴾
(11)Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Sebagaimana kita ketahui, proses dalam meraih kebenaran bukanlah sebuah rangkaian peristiwa tanpa makna. Bahkan kalau kita selidiki lebih awas terhadap berbagai kejadian yang kita alami, tentulah kita sampai pada satu titik bahwa "selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa" tetapi hikmah apa yang dapat kita petik dari kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara; kita belum bisa menjawab secara lugas. Sementara proyek pembodohan terhadap generasi muda semakin deras, upaya pengkerdilan aqidah dan pemasungan syariat semakin nyata yang pada akhirnya akhlak anak bangsa semakin terpuruk. Tiba-tiba kita tersentak kaget bahwa ada yang telah hilang dari kita. Sebagai bangsa kita kehilangan karakter Building. Karena itu, terkadang bahkan sering kita kehilangan control diri. Kita menjadi culas, kita menjadi serakah, kita menjadi munafik, kita menjadi fasik, kita menjadi dzalim, kita menjadi hasad, dan dengki terhadap sesama. Mana yang haq yang layak kita ambil dan mana yang batil yang seharusnya kita jauhi korupsi contohnya, mana yang halal kita ambil bagian didalamnya dan mana yang haram kita menghindarkan diri dari padanya, mana keadilan yang seharusnya kita junjung tinggi dan mana kecurangan yang seharusnya kita benamkan sedalam-dalamnya Semuanya kini semakin tidak jelas. lni tidak hanya dirasakan oleh orang orang yang terbimbing hatinya di jalan Allah tetapi hampir dirasakan oleh setiap orang dizaman ini.

Bangsa yang kaya raya dengan segala sumber alamnya baik yang ada di atas maupun di dalam perut bumi Indonesia. Yang oleh para seniman menggambarkan "Tongkat kayu dan batu bila ditancapkan dipersada Indonesia maka akan tumbuh menjadi tanaman yang dapat menghidupi penduduknya" tapi yang kita rasakan kini adalah sebaliknya, seperti kata pepatah kita "Seperti ayam bertelur dilumbung padi, mati kelaparan" Negeri yang 'Gema ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja' negeri yang aman damai, gotong royong, tidak lagi kita saksikan dari wajah-wajah polos anak bangsa kita. Yang ada adalah keculasan, kebringasan, keserakahan, kemunafikan, kefasiqkan, kedzaliman serta keputus asaan.

"Subhanallah..." Negeri yang begitu indah yang dipuja-puji oleh segala bangsa di dunia; yang oleh para Founding Father kita, dengan bijak telah meletakan Visi dan missi Bangsa di atas landasan kalimah Tauhid 'Ke-Tuhanan Yang Maha Esa, yang tiada lain adalah "Qul huwallahu ahart. Maka semestinya kita sebagai pewarisnya mampu mewujudkannya menjadi bangsa besar dan terhormat dimata dunia yakni Baldatun tayyibatu warabbun ghafuur. Mengapa belum terwujud ? jawabannya, mungkin kita telah salah mengurusnya.

Allah menghadirkan fenomena ini dalam sebuah firmannya : QS.AI-A'raaf (7) 96: Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Rasulullah juga telah mengingatkan hal tersebut kepada kita umatnya : "Idza wusidal amru ilaa ghairi ahliha fantadhirissaata" artinya: Apabila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehanurannya" (HR. Bukhari).

Seorang diplomat sekaligus filosof Inggris Charles Le Gai Eaton yang telah menemukan kembali hidayah dan menjadi muslim, mengatakan, di manapun seorang muslim dilahirkan, dan apapun ras atau suku bangsanya, kampung halaman umat Islam adalah Dar al-Islam. Paspor seorang muslim, baik di dunia maupun akhirat, adalah kalimat syahadat" Sungguh bijak pernyataan dari Charles Le Gai Eaton. Dan sesungguhnya inilah yang seharusnya terjadi di dunia Islam termasuk di Indonesia. Namun sejak kemundurannya setelah abad ketiga belas, umat Islam hampir tidak pernah menemukan jalan kembali kepada kejayaannya.

Kita juga tidak asing dengan seruan Tajdidul Islam atau pembaharuan Islam yang sesungguhnya karena keterbelakangan dan kejumudan umat Islam dalam memahami dan menerapkan ajaran Islam sehingga negeri-negeri Islam yang kaya raya hampir tidak dapat mensejahterakan penduduknya justru mengundang malapetaka. Kolonialisme; harta dan kekayaannya dikuras, rakyatnya dijajah dan dipasung dengan belenggu kemiskinan dan kebodohan. Agama Islam yang dianutnya tidak lagi memberikan pencerahan peradaban justru kehilangan spirit bagi pemeluknya. At tbatrtya; seperti ungkapan seorang pembaharu Islam di Mesir ketika ditanya wartawan setelah kembali dari pengasingannya di Prancis "Apa yang anda lihat di Eropa?" jawab beliau, "Saya melihat Islam di Eropa, sekalipun saya tidak melihat umat Islam, dan di Mesir saya melihat Umat Islam, tapi saya tidak melihat Islam".

Dan beberapa latar belakang dan fenomena serta persoalan yang menimpah bangsa dan umat Islam khususnya, maka gagasan untuk kembali ke Spirit Islam menjadi tetap actual dalam kehidupan kita sebagai orang yang beriman, paling tidak dengan farmat yang sederhana untuk diucapakan, dan siapa saja bisa mengucapkan adalah "Watawaa shaubil watawaa shaubis shabri" dengan segala action progresif yang dihadapi setiap pribadi muslim. Namun demikian kita juga membutuhkan kekuatan jama'ah, kerja keras dan sungguh¬sungguh (jihad) sebab hanya dengan persatuan dan kesatuan umat Islam maka tugas berat ini bisa terwujud. Terutama mewujudkan program yang sudah di agendakan.

Dalam kaitan ini, terutama membangkitkan kembali sprit Islam; maka ada beberapa agenda yang perlu kita kerjakan tidak hanya sebagai individu dan parsial tapi juga secara ummat dan terencana serta bekesinambungan.

Pertama
Pembaharuan dalam hal aqidah. Dalam hal ini bukan aqidah Islam kita yang kita ubah tetapi dalam arti purifikasi, pembersihan, atau pemurnian. Yakni, hal-hal yang mengotori aqidah, dan dampaknya dalam perilaku serta budaya tercipta; kita campakan sejauh-jauhnya supaya aqidah kita benar-benar bersih seperti yang dikehendaki Al Qur'an dan As Sunnah. Terutama bentuk-bentuk syirik yang sudah sangat terbiasa dalam kehidupan masyarakat sebagai warisan sinkritisme dengan ajaran agama agama sebelumnya saat terjadi Islamisasi di Indonesia.

Kedua
Pembaharuan dalam Teologi Islam. terutama ada gejaia positif dikalangan sebagian generasi muda, yang sudah terbebas dari warisan bentuk-bentuk syirik dimasa lalu dan terbebas pula dari syirik gaya baru sebagai manifestasi jahiliyah modern, maka teragenda dalam visi perjuangan yang ditegakkan adalah membumikan ajaran Islam dalam kehidupan bermasyarakan seperti yang dicita-citakan oleh para Founding Father kita yakni terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar benarnya. Teologi yang shahih yang berlandaskan kitabullah dan sunnah shahih tentu terus menjadi ruh dari teologi dalam perspektif yang lain yang relevan dengan masalah masalah sosial yang muncul dalam era global ini.

Ketiga
Umat Islam harus terus menerus untuk memperbaharuai dan meningkatkan pengetahuan dan teknologinya. Karena Agama Islam mengajarkan keseimbangan hidup dunia dan akhirat."Rabbanaa aatinaa fiddunya hanatan wafil akhirati hasanatan"
dan untuk mencapainya Rasulullah menyerukan dengan menggunakan ilmu "Man aradaddunya fa'alaihi bil ilmi, wan araadal akhirati fa'alaihi bil ilmi...." Barangsiapa menghendaki kebahagiaan dunia maka wajib atasnya untuk mengetahui ilmunya, dan barangsiapa yang menghendaki kebahagiaan hidup akhirat maka wajib atasnya untuk mengelahui ilmunya...(Al Haditst) Juga di isyaratkan dalam QS.Al'Alaq (96) : 1 dan QS. Al¬Mujadalah (58): 11.

Keempat
Memodernisasi diri dengan manajemen modern dalam seluruh lapisan terutama organisasi dan yang trend adalah adaptasi dan kolaborasi serta koorporasi tapi masih dalam koridor spirit Islam. "Tak peduli berapa jauh jalan salah yang anda jalani, putar arah sekarang juga (Manajemen Perubahan dan Manajemen Harapan), Jangan sampai kita kehilangan momentum untuk berubah! Ya, Cuma itu kesempatan kita. Sekali momen ini hilang, semuanya akan kembali kecara-cara lama Rhenald Kasali.

Kelima
Pembaharuan Etos kerja yang lebih Islam. Yatitu kerja keras, kerja cerdas serta istiqomah Seperti yang Qur'an maksudkan yakni

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh¬sungguh (urusan) yang lain (8). dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (QS.AI-Insyirah(94): 7-8).

Padahal iqrar yang telah terucap: Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.(QS.AI¬An'am(6):162. Firnnan Allah-dalam QS. Ash-Shaff (61) :4.

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang _ berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.

Wallahu A'lam Bishawab.

Senin, 04 Juli 2011

Memahami Makna Kalimat Pada Ayat Isra' Mi'raj Rasulullah SAW

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴿١﴾
(1)Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
[QS. al-Israa' (17): 1]


Pada ayat di atas terdapat beberapa istilah yang harus dipahami secara utuh dan komprehensif, tidak secara parsial, sehingga diperoleh pemahaman yang menyeluruh, tentang peristiwa isra' Mi'raj, adapun Istilah-istilah tersebut yaitu sebagai berikut :

1. Subhaana (Maha Suci Allah)
Dalam peristiwa Isra' Allah SWT memulai firman-Nya dengan kata "Subhana" (Maha suci) kata "Subhana"ini akan memberikan pengertian dalam hati seseorang bahwa dalam peristiwa itu ada kekuatan Supranatural yang tidak mungkin dijangkau oleh pemahaman manusia dimuka bumf. Maka makna kata "Subhanallah" ialah bahwa Allah itu Maha Suci Dzat-Nya, Sifat-Nya dan Perbuatan-Nya dari segala kesamaan. Kalau ada suatu jenis perbuatan atau peristiwa yang Allah mengatakan bahwa "Peristiwa itu Dia yang melakukan" maka kita sebagai hamba harus menSucikan-Nya dari segala ketentuan yang berlaku untuk manusia, dan tidak boleh mengukur perbuatan Allah itu dengan perbuatan manusia. Oleh karena itu, maka surat ini dimulai¬Nya dengan kata "Subhana" (Maha Suci) yang akan menimbulkan kesan dalam hati manusia bahwa peristiwa itu benar-benar peristiwa ajaib dan diluar jangkauan akal dan kemampuan manusia. "Subhana" berarti "Tanzih" (mensucikan). Apabila Allah mengatakan "Subhana" berarti mensucikan perbuatan-Ku dari perbuatan-mu (makhluq).

2. Asraa (Yang memperjalankan)
Subjek dari "Yang memperjalankan" dalam hal ini adalah Allah, dengan kalimat : "Al-Ladzii asraabi"sama dengan kata "liya'buduni" QS;51:56, dan kata "Asraa" terdapat pula Dalam surat 8:67, 70, yang artinya "tawanan", bentuk kata benda, noun atau isim. Dalam konteks ayat 17/1 ini, kita mengartikan "Asraabi" dengan "Memperjalankan dalam penjagaan" sebagai kata kerja, verb atau Hal ini dapat dianalogikan pada maksud surat 26:52 dimana terdapat istilah yang sama tetapi bentuknya fi'il amar untuk memperjalankan Bani Israil dengan penjagaan untuk menyeberangi laut merah. Kalimat ini memberi pengertian bahwa Rasulullah SAW itu di Asraa-kan dalam pengertian di Mi'rajkan oleh Allah SWT, bukan Asraa dengan sendirinya atau kehendak Muhammad SAW sendiri tetapi dengan keilmuan dan kekuasaan Allah yang memperjalankannya.

3. Bi-'Abdihii (Hamba-Nya)
Dalam ayat ini Allah tidak menyebut lafal "Bi¬Rasulihii" atau lafal "Bi-Muhammadin", tetapi menggunakan lafal Bi'abdihi, yaitu dengan sifat "Ubudiyah"atau Penghambaan kepada Allah yang merupakan pintu datangnya karunia Allah SWT, sebab semua Nabi dan Rasul yang nota bene merupakan panutan umat, diutus untuk membenarkan atau meluruskan cara penghambaan kita kepada Allah SWT. Kata sifat "Ubudiyah" atau penghambaan ini adalah kata yang pahit, yang_ sulit dan yang dibenci oleh manusia, apabila terjadi diantara sesama makhluq, yang satu terhadap yang lainnya, maka makhluq yang satu akan menjadi hamba bagi makhluq yang
lain. Dan ini mengharuskan si-hamba mencurahkan pikiran, tenaga, dan segenap kemampuannya sebagai baktinya, Tetapi penghambaan dari makhluq terhadap Al-Khaliq justru sebaliknya, yaitu Al-Khaliq yang dipertuan itulah yang akan memberi karunia kepada orang yang menghambakan diri kepadaNya.

Karena itu maka "Ubudiyah" disini adalah suatu kemuliaan, apabila pengabdian itu meningkat, maka pemberian karunia dari Allah Yang Maha Suci itu ditingkatkan pula. seperti yang terjadi pada diri Nabi Isa as. putra Maryam yang disebutkan oleh Allah dalam surah an¬Nisa';4:172 "Al Masih tiada enggan menjadi hamba bagi Allah, demikian pula para Malaikat yang dekat." Disamping itu, kata "Bi'abdihi" dan ini sebagai jawaban atas penolakan sebagian orang bahwa perjalanan malam hari Rasulullah SAW ini hanya terjadi dengan ruhnya saja tanpa jasad, padahal kata "'Abd" (hamba) dipakai untuk ruh beserta jasadnya sekaligus, sehingga tidak ada orang yang mengatakan ruh itu sebagai "'Abd" atau jasad yang tidak ber-ruh sebagai 'Abd".

4. Lailan (Pada suatu malam)
Rasulullah SAW telah diperjalankan oleh Allah SWT pada waktu malam hari, mengapa Rasul diberangkatkan pada malam hari? Disini kita sudah sepakat bahwa Rasulullah diperjalankan secara logis, secara nyata dan riil, maka sekarang kita akan masuk pada keterangan yang juga logis dan ilmiah serta cocok untuk ilmu kejiwaan. Masih ingat kisah Adam yang dulunya bertempat tinggal didalam Jannah yang kita artikan sebagai kebun yang subur yang berada diluar planet bumi. Sekarang cobs anda perhatikan kembali ayat ke-14 dan ke-15 dari surah An Najm (53) yaitu "Di Sidratil Muntaha","Di dekatnya ada Jannah tempat tinggal, Dan kemudian lihat juga QS. Thaha; 20:117-119 maka akan ditemukan antara Jannah yang termaktub dalam surat an-Najm:15 itu dengan Jannah dimana dulunya Adam dan istri pernah tinggal sebelum "diterbangkan" keplanet bumi. Kalau dicermati dengan balk, Jannah tempat tinggal Adam pertama kali, itu dikatakan tidak akan merasa kepanasan, dan saya mengasumsikan bahwa Jannah itu letaknya di Muntaha dimana Rasulullah SAW melakukan perjalanannya pada peristiwa Mi'raj. Jadi, Muntaha itu adalah nama sebuah tempat yang bisa juga sebuah planet yang berada diluar angkasa dan bisa kita katakan kedudukannya berada di atas orbit bumi, seperti halnya dengan kedudukan planet Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto, (baca: "Peta Ruang Angkasa" atau Studi Kritis Pemikiran Islam oleh Armansyah).

5. Min al-Masjidil Haraam Ha al-Masjidil Aqsha
Dari Masjidil Haraam (Makkah) menuju ke Masjid Al-Aqsha (Palestina) Dimulainya perjalanan Rasulullah SAW, Seperti yang diketahui bersama, Masjidil Haraam adalah rumah peribadatan yang pertama kali dibangun untuk manusia oleh Allah SWT yang akhirnya dasar-dasarnya ditinggikan oleh Nabi Ibrahim bersama putranya, Nabi Ismail as, Tempat tersebut juga merupakan awal bertolaknya da'wah serta tempat berdomisilinya Rasulullah SAW. Menurut Haikal Sulaiman Masjid Al-Aqsha sendiri waktu itu belum ada, yang ada Bait Al-Maqdis di Palestina, hal ini sesuai sabda Rasulullah SAW. "Kaum Quraisy menanyakan kepadaku tentang perjalanan lsraa, aku ditanya tentang hal-hal di Bait Al-Maqdis, tidak dapat aku menerangkannya sampai-sampai aku bimbang. Tatkala kaum Quraisy mendustakanku, aku berdiri di Hijr lalu Allah SWT menggambarkan didepanku keadaan di Bait Al-Maqdis dan tanda-tandanya hingga mampu aku menerangkannya kepada mereka seluruh keadaan" (HR. Bukhari) hal ini membuktikan bahwa memang Rasul SAW tidak pernah pergi kesana malam itu, melainkan pergi ke "Masjid Al-Aqsha" yang terletak di Muntaha. Aqsha bukanlah nama, arti Masjidil Aqsha adalah Masjid yang jauh atau Tempat sujud yang terjauh. Dan masih ingatkah anda tentang Jannah yang disana Adam dihormati oleh semua Malaikat dan Jin dengan cara bersujud ? Masjidil Aqsha yang menjadi tempat tujuan Rasulullah SAW adalah Tempat bersujudnya para Malaikat terhadap Adam sekaligus menjadi tempat bersujudnya Rasulullah SAW kepada Allah pada scat beliau menerima perintah shalat yang letaknya sangat jauh dari bumi dan hanya terdapat di Muntaha.

6. Baraaknaa_Haulahuu (Yang telah Kami berkahi sekelilingnya)
Kata hau lahuu atau Kami berkahi sekelilingnya adalah diperuntukkan untuk tempat disekitar perjalanan Rasulullah SAW tersebut, atau juga Kata "NYA" atau lafal "HAU_LAHUU" pada kata "Kami berkahi sekelilingnya" sebenarnya adalah ditujukan kepada diri Rasulullah SAW sendiri. Jadi, lstilah "disekelilingnya" = disekeliling Rasulullah SAW. Sementara arti Barakah adalah penjagaan, yaitu penjagaan yang melingkupi diri Rasulullah SAW dalam Asraa itu.

7. Linuriyahuu Min Ayatinaa (Kami perlihatkan tanda-tanda Kami)
Kami perlihatkan sinonim dengan "Diperlihatkan" Yaitu, diperlihatkan kepada Rasul SAW dengan mata kepala, masalah Mi'raj pada surah 17/1 ini, AlQuran menggunakan perkataan : "Linuriyahu min aayatina"yang artinya: "untuk Kami perlihatkan kepadanya tanda-tanda Kami" yaitu tanda¬tanda kebesaran Allah atau "Laqad ra-aa min aayaati Rabbihi alkubraa." "Sesungguhnya is telah melihat sebagian tanda-tanda Tuhannya yang besar/hebat." (QS. an-Najm;52:18)

Jumat, 11 Maret 2011

Dua Musuh Kontemporer Bangsa

Oleh: Agusliansya, S.P.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
(41)Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
[QS. ar-Ruum (30): 41]
Pada saat ini, terdapat tiga musuh kontemporer yang dihadapi umat Islam khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Ketiga musuh yang dimaksud adalah korupsi dan suap-menyuap sebagai saudara kembarnya, perusakan Iingkungan hidup dan narkoba. Apabila ketiganya dibiarkan dan tidak diberantas secara serius, niscaya akan berakibat fatal dan menyakitkan bagi kehidupan umat dan bangsa dikemudian hari. Sebenarnya dampak buruk ketiganya sudah dapat kita lihat dan rasakan pada saat sekarang ini.

Selanjutnya marilah kita kupas dan renungkan musuh pertama yang bernama korupsi dan suap-menyuap sebagai saudara kembarnya. Kalau dihitung secara global, sesungguhnya sudah triliunan rupiah uang negara yang telah dicuri secara halus, baik dalam skala besar maupun kecil, oleh para koruptor yang terdiri dari para oknum pejabat tinggi negara yang berasal dari jajaran eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Di jajaran birokrasi juga dijumpai banyak oknum pegawai negeri yang berbuat serupa, mulai dari tingkatan pusat sampai daerah bahkan sampai ketingkat pedesaan.

Yang jelas budaya korupsi telah berlangsung sejak zaman Orde Lama sampai sekarang baik dilakukan secara perorangan maupun secara berjamaah alias beramai-ramai. Sepertinya orang tidak lagi peduli atau merasa malu untuk mencuri uang negara yang notabene uang rakyat: Seandainya yang diselewengkan itu dialihkan untuk kesejahteraan rakyat, niscaya rakyat Indonesia tidak akan mengalami kesengsaraan seperti sekarang ini. Yang memprihatinkan adalah bahwa banyak diantara pelaku korupsi tersebut beridentitas din sebagai seorang muslim. Islam itu sejatinya sangat anti korupsi. Ketika beredar isu bahwa Rasulullah SAW mengkorupsi ghanimah atau harta rampasan perang, Allah SWT langsung mengklarifikasi dengan firman-Nya:
وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَغُلَّ وَمَن يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
(161) Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.

Semangat anti korupsi Islam tersebut diperkuat dengan sebuah Hadits yang menyiratkan keengganan Rasulullah SAW menshalati jenazah seorang laki-laki yang gugur di medan perang Khaibar hanya karena yang bersangkutan telah melakukan korupsi.
"Dari Zaid bin Khalid berkata: "Seorang laki-laki telah gugurdi medan perang Khaibarlalu Rasulullah SAW bersabda: "Shalatkanlah sahabat kalian tersebut, (sedang aku sendiri enggan menshalatkannya) karena is telah melakukan penggelapan saat berjuang di jalan Allah. Ketika kami periksa barang­barangnya, kami menemukan manik­manik Yahudi yang (harganya) tidak mencapai 2 dirham."
(HR.Nasai).
Sementara itu, saudara kembar korupsi adalah menyuap. Rasulullah SAW pernah menyindir dengan lugas Ibnu al­Lutbhiyyah, utusan beliau untuk menarik zakat kepada Bani Sulaim, hanya kerena is menerima hadiah ketika sedang menjalankan tugas:
'Apakah kamu hanya duduk saja di rumah bapakmu atau ibumu (tidak menjabat sebagai utusan saya), hadiah itu akan datang, kepadamu?
(HR. Bukhari dan Muslim).
Kedua riwayat diatas menggambarkan:
(1) betapa Rasulullah SAW ingin mencegah perilaku korupsi secara preventif;
(2) mengingatkan betapa jabatan yang disandang oleh seorang pejabat negara dapat menjadi pintu gerbang menuju perbuatan korupsi;
(3) mengisyaratkan bahwa suap-menyuap dengan cara halus sekalipun, seperti pemberian hadiah atau grafitasi kepada pejabat negara, merupakan saudara kembar korupsi. Karena itulah Rasulullah SAW, bersabda:
"Laknat atau kutukan Allah (akan ditimpakan) kepada orang yang menyuap dan orang yang menerima suap. "
(HR. Ibnu Majah).
Musuh kedua adalah perusahaan lingkungan. Sesungguhnya Indonesia adalah negeri yang dianugerahi Allah SWT alam yang subur dan makmur. Hutan tropis tumbuh lebat dimana-mana. Namun menurut Greenpeace, sebuah LSM Internasional yang peduli Iingkungan hutan Indonesia yang Iuasnya 120 Juta hektar kini hanya tinggal 19 Juta hektar saja yang masih ash dan perawan. Sisanya sekitr 101 juta hektar dalam keadaan kritis alias gundul. Itu berarti rata-rata setiap hari hutan yang dihancurkan seluas 51 hektar saja seluas 300 kali lapangan sepak bola . Karena itu Greenpeace menetapkan Indonesia sebagai negara penghancur hutan tercepat di dunia.

Pembabatan hutan (illegal logging) dan perusakan Iingkungan yang telah berlangsung puluhan tahun tersebut telah menjadi faktor penyebab munculnya musibah alam yang silih berganti, seperti tanah longsor dan banjir bandang dimusim hujan, atau kekeringan yang meluas di musim kemarau. Bahkan kerugian negara ditaksir mencapai Rp. 30-45 triliun setiap tahunnya. Bila pembabatan hutan tersebut tidak segera dihentikan, maka dipastikan "kiamat-kiamat kecil" yang menyengsarakan rakyat akan terus berlangsung. Untuk menggugah kesadaran kita akan bahaya tersebut, marilah kita renungkan firman Allah SWT berikut ini:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
(41)Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
[QS. ar-Ruum (30): 41]
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
(30)Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).
[QS. asy-Syuraa (41): 30]

Musuh ketiga adalah Narkoba. Indonesia narkoba adalah komoditas bisnis yang sangat menguntungkan. Kini diketahui bahwa jumlah pengguna narkoba di Indonesia diperkirakan mencapai empat juta orang. Andai kata dalam sehari mereka mengkonsumsi satu gram narkoba saja, maka jumlah narkoba yang dibutuhkan adalah sebanyak empat ton yang berarti dalam sebulan dapat mencapai 120 ton. Jumlah pengguna narkoba yang begitu besar ditambah lemahnya penegakan hukum di Indonesia, telah membuat para produsen dan pengedar narkoba, baik dari dalam maupun Iuar negeri, berani bermain spekulasi demi mengeruk keuntungan yang berlipat ganda. Namun, apakah keuntungan yang luar biasa tersebut sebanding dengan dampak destruktif yang ditimbulkannya di tengah-tengah masyarakat ? Jawabannya adalah tegas: Tidak!".

Bisa dipastikan, bahwa korban terbanyak dari barang-barang haram dan terkutuk tersebut adalah ummat Islam. Secara ekplisit AI-Qur'an memang tidak menyebut larangan memakai narkoba. namun secara implisit larangan tersebut dapat ditemukan dan dipahami, antara lain, dari firman Allah SWT berikut ini.
وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
(195)Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
[QS. al-Baqarah (2): 195]
Wallahu alam bish-shawab.

Sabtu, 05 Februari 2011

Menuju Kebangkitan Gerakan Islam Yang Tangguh

Oleh : Anas Yusuf

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوص
(4) Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
[QS ash-Shaaf (61): 4]

Muqadimah
Runtuhnya imperium Romawi tidaklah disebabkan oleh kekuatan dari external, akan tetapi hancurnya, bangkrutnya /runtuhnya dan terpecah. belahnya imperium tersebut oleh kekuatan dari dalam (internal) yang Baling melemahkan dan tidak mendukung sate dengan yang lain seperti perebutan kekuasaan, perseteruan, persaingan pengaruh tidak seliat diantara anggota, lemahnya, persepsi mini dan vi.si organisasi./persyarikatan dakwah.

Organisasi sebagai organisme memang memiliki kurun waktu (life time) tertentu, ada yang panjang, sedang, dan pendek usianya. Mereka hancur, dicabut dari. kehidupan. Berbicara tentang organisasi yang tangguli dan sukses ditengah arus kekuatan globalisasi yang identik dengan persaingan, saga rasa makin penting karena kita sedang menyaksikan berbagai macam organisasi apakah itu Yayasan Perserikatan, Ormas, CV, Perusahaan, Harakoh, Koperasi, dan lembaga lainnya yang menjadi wadah /tempat sumber pendapatan/income hancur bergelimangan bersamaan dengan matinya orde baru. Sebab paradigma yang diberikan kepada lembaga ataupun organisasi tersebut adalah roh kematian itu sendiri yaitu bentuk keseragaman /penyeragaman azaz tunggal, kepatuhan, keta'atan berdasarkan rasa takut kepada atasan (asal bapak senang), sentralisasi kekuasaan, intimidasi dan kekerasan, pembohongan diri, penganaktirian, dan pikiran yang serba uang Berta pendewaan inateri.

Sangat logis untuk mengatakan sepanjang roh kehidupan dalam berorganisasi atau apapun namanya, sepanjang itu pula organisasi tersebut tetap hidup eksis dan bertahan, disamping faktor kualitas sumber days manusia, agar sebuah proses kebangkitan, kesuksesan menuju organisasi atau gerakan Islam yang tangguh tercapai maka ada 6 kekuatan ruh antara lain scbagai berikut:

1. Adanya Kebangkitan Ruhiyah (Ash-Showah Ruhiyah).
Kebangkitan ini akan terealisasi apabila semua anggota "'Pengelola ada kedekatan dan keharmonisan hubungan langsung dengan Allah yang senantiasa berusaha meningkatkan kualitas dan intensitas dzikir dan, amal, dan taqwa secara luas. Salah satu indikasinya adalah timbulnya perasaan menyesal manakala terlewati waktu dan peristiwa tanpa ada hasil perubahan kebaikan dan bernilai syari'ah, misalnya terlupakan membaca Qur'an, sholat tahajud, dhuha, puasa sunnah, infaq, senyum Islami, dst,kondisi ini efektif manakala kits hidup dalam nuansa amal jami' yang terkontrol (QS. 61:4 / QS. Al Ashr: 13 3).

2.Adanya Kebangkitan pemikiran (Ash-Showah Fikriyah)
Agama Islam sangat konsen terhadap ilmu. Hal ini terbukti dengan surat pertama kali turun QS Al-Alaq: 1-5 yang artinya: "Seorang muslim dituntut menjadi orang slim (berilmu secara luas baik tekstual maupun kontekstual kaffah, mufakkir (seorang pemikir karakteristik ulul albab, QS 3:190-191), sehingga seorang muslim yang produktif melahirkan pemikiran yang inovatif, kreatif, positif, Islami di tengah-tengah ants globalisasi yang carat dengan dunia persaingan, perang pemikiran /konsep/opini (ghos-7ulfikri).

3.Adanya Kebangkitan Penguasaan Konsep (Al-Athaata An­Nazhariyah).
Karma Islam adalah sebuah mabda' (ideologi/keyakinan) yang universal mencakup segala dimensi aspek kehidupan baik politik, ekonomi, militer, budaya, social, hukum, moral, perasaan, perilaku (QS.Al-Baqarah: 2: 208/85). Ketidakmampuan mamahami Islam secara sempurna secara ilmu maupun analisa, akan membuat ketidakpastian dan ketidakstabilan perkembangan organisasi tersebut. Yang menyangkut program dan target yang diharapkan. Karenanya Al-Qur'an mengisyaratkan perlu adanya sekelompok kaum dari umat-Nya untuk menekuni berbagai disiplin ilmu secara professional. (QS. 9:122/8:60).

4.Adanva Pengenalan dan Penguasaan Lapangan (AI-Wrifah Al Maidanivah).
Terkadang secara konsepsional kita menguasai, akan tetapi mentah ketika dihadapkan dengan realitas di lapangan. Kita sering menemui hambatan, kesulitan dalam. mentransformasikan. Oleh karena itu penguasaan fiqh waqi'(pemahaman dan permasalahan, karakteristiknya, sehingga akan mempermudah untuk melangkah dengan skala perioritas program (fiqh awlawiyat) persoalan. tahapan-tahapan strategi, dan ujung-ujungnya mampu mendahulukan program yang paling penting daripada muhmin (penting).

5. Adanya Kebangkitan Solidaritas Struktural (AI-Manath At­Tanzhimiyah).
Disamping dibutuhkan kebangkitan ruhiyah, pemikiran, penguasaan, konsepsional, pengenalan lapangan kalau tidak didukung oleh solidaritas struktural (organisasi yang rapi, disiplin, manajemen yang handal professional) boleh jadi impian dan cita-cita, kebangkitan itu semua pampa. Karena begitu maka pentingnya solidaritas struktural sahabat Rasulullah Sayidina Ali bin Abi Tholib, pernah mengatakan ".41haqqu bilaa nizhomin yaghlibahu albatil bini.-hoinin " suatu kebenaran yang tak terorganisir secara rapi akan dikalahkan oleh suatu kebatilan yang tak terorganisir secara rapih pula". Dan juga dalam firman Allah dalam. Surat QS. 61:4 "Sesunggauhnva Allah mencintai orang-orang yang berperang di Galan Allah dalam barisan 'k yang teratur seaan- akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun rapi dan kok-oh".

6.Adanya Kebangkitan Pergerakan (Ash-Showah A/- Harakiyah).
Seorang muslim dituntut halnya sebuah dinamo bagi sebuah mesin harus selalu hirarki, dinamis, aktif, berkreasi menyumbangkan potensinva kaffah (sempurna) dan maksimal untuk kepentingan organisasi atau lernbaga, serta kemaslahatan ummat. Sebagaimana firman Allah dalam. QS. 9:105. "Dan bek-eijalah kamu, maka Allah dan Rasul-,Vi,,a serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmit itu, (Ian kanni akan dikembalikan kepada apa yang telah kamu kerjakan ". Sebab air diamlstatis dan tidak mengalir biasanya akan bait dan tempat sarong penyakit artinya tidak n2embawa kemanfaatan.

Akhimya mari kita sama-sama bergandengan tangan, merapatkan barisan. uk.huwah Islamiyah, saling dukung, saling bantu dengan sesama untuk merealisasikan ghiroh (semangat) menuju kebangkitan ummat agar organisasi dimana kita berada akan sukses, tangguh, dan tahan banting di tengah arus dahsyat globalisasi yang penuh dengan tantangan ini. Selamat berjihad demi tegaknya syariat Islam Izzul Islam wal Muslimin. Wallahu'alarn Bush shawab.

Jumat, 14 Januari 2011

Menjadi Manusia berkarakter Lebah

وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُون
(68) Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia",
[QS. an-Nahl (16): 68]
Allah SWT telah menciptakan akal dan menyempurnakannya dengan wahyu sebagai petunjuk. Dengan akalnya manusia diperintahkan untuk memikirkan ciptaan-ciptaan-Nya serfs merenungkan dan mengambil pelajaran dari keajaiban-keajaiban ciptaan-Nya yang salah satu tentang binatang lebah berdasarkan firman-Nya:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُون
(38) Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.
[QS. al-An'am (6): 38]
Salah satu binatang kecil yang menjadi nama surah al-Qur'an, yaitu An-Nahl (lebah).

Karakter Lebah
Surat An-Nahl terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah. Surat ini dinamakan An¬Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah swt ayat 68 yang artinya:
وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُون
(68) Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia",
[QS. an-Nahl (16): 68]
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat clan kenikmatan kepada manusia. Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al¬Qur'anul Karim. Madu berasal dari macam-macam sari bunga clan dia menjadi obat bagi macam-macam penyakit manusia Surat An-Nahl ayat 69 menjelaskan hal tersebut: "Kemudia makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam wamanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pads yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. "

Sedang AI-Qur'an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran¬ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang mass untuk mencapai kebahagiaan dunia clan akhirat. (Lihat surat (10) Yunus ayat57 clan surat (17) Al Isra' ayat 82). Surat ini dinamakan pula "An Ni'am" artinya: "Nikmat-nikmat, karena didalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam nikmat untuk hamba¬hamba-Nya. Sarang lebah berbentuk segi enam, bentuk yang paling kuat clan efisien untuk sebuah bangunan sarang sehingga tidak ter ' iadi pemborosan. Setiap hari lebah mencari sari bunga untuk dijadikan madu. Madu cairannya dapat dijadikan obat yang menyembuhkan clan untuk kesehatan. Ampasnya dapat dijadikan lilin. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja clan membuang sesuatu yang tidak bermanfaat. Lebah tidak mengganggu kecuali ads yang mengganggunya. Sengatannya dapat menjadi obat. Tapi jangan cobs mengganggu lebah, lebah akan melawan kepada siapa saja yang mengganggu lebah, lebah akan melawan kepada siapa saja yang mengganggunya. Lebah jugs tidak merusak sesuatu yang dihinggapinya.

Menjadi Manusia "Berkarakter Lebah"
Nabi Muhammad mengibaratkan seorang mumin sebagai lebah: "Tidak makan kecuali yang balk, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat clan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memcahkannya ".Hadits diatas merupakan karakter ideal seorang mukmin. Rasulullah SAW berharap agar seorang mukmin mempunyai karakter ideal seorang mukmin mempunyai karakter seperti "Lebah".

Ada 5 sifat yang harus dimiliki seorang mukmin agar menjadi manusia yang berkarakter "lebah":
1. Rajiv disiplin clan pekerja keras seorang mukmin harus rajin, disiplin, clan kerja keras dalam mencari nafkah untuk menafkahi keluarga. Seorang mukmin juga harus gigih menuntut ilmu s e t i n g g i m u n g k i n d a n mengembangkan wawasan untuk mencapai keunggulan dalam seluruh aspek kehidupan.

2. Produktif clan bermanfaat bagi lingkungan. Rasulullah SAW bersabda:
"Yang terbaik diantara manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya".
Setiap mukmin harus mengambil peran untuk menjadi manfaat bagi lingkungannya. Yang mempunyai ilmu amalkan ilmunya, yang mempunyai tenaga beramalah dengan tenaga, yang mempunyai harta beramalah dengan tenaga. Semuanya harus mengambil peran dalam mencapai peradapan yang baik.

3. Tidak boros clan bergaya hidup hemat. Rasulullah SAW bersabda: "Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha lebih baik, membelanjakan uang secara sederhana, dan dapat menyisihkan kelebihan saat dia miskin dan membutuhkan"

4. Tidak melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat dan merusak.
Salah satu ciri seorang mukminadalah menghindarkan diri dari segala sesuatu yang tidak bermanfaat. Allah SWT berfirman dalam (QS. Al-Mukminun: 3):
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُون
(3) dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
[QS. al_mu'minuun (23): 3]
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِين
(77) Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
[QS. al-Qashash (28): 77]
5. Memperkuat gerakan Islam, amar ma'ruf nahi munkar:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون
(104) Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
[QS. Ali Imran (3): 104]

Semoga kita menjadi mukmin yang diharapkan Rasulullah SAW. Yaitu muslim yang berkarakter "Iebah",

Wallahu a lam Bis shawab.

Rabu, 12 Januari 2011

Al-Haq (Kebenaran) Fitrah Insani

Oleh: Drs. H. AboeBakar Hasan

"Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Qur'an itu, agar masing-masing diri tidak binasa karena perbuatannya sendid. Tidak ada baginya pelindung, dan tidak pula pemberi syafaat-slain daripada Allah". (QS. Al-Anam: 70).

Al-Haq' (kebenaran ) datangnya dari Allah, sumbemya Al-Qur'an dan AI-Hadits. Karenanya, Al-Haq itu adalah sesuatu yang pasti muncul. Nabi Muhammad SAW, setelah diangkat sebagai Rasul Allah banyak menerima hujatan dan ejekan dari semua pihak. Namur di tengah-tengah gencarnya hujatan itu datang pembela (AI-Haq) bukan saja dari kalangan Islam tapi juga dari non Islam.
Michael A.Hart misalnya pads tahun 1978 menulis buku yang berjudul "The 100 a Rangking of The Most Influential Persons in History'. Dalam buku ini, Hart hendak membandingkan diantara 100 pribadi yang berpengaruh, yang pernah menghiasi sejarah dunia. Pribadi yang dikemukakan diantaranya Nabi Muhammad SAW. Issac Newton, Nabi Isa (Yesus Kristus), Budha, Confusius, dan Jengis Khan, dan seterusnya. Hart mengemukakan empat kreteria yang harusdipenuhi: (1) Orangnya memang pemah ada,
(2) Punya pengaruh pads generasi berikutnya,
(3) Prestasi (keunggulannya) terbukti, (4) Karyanya merupakan hasil pribadi.
Berdasarkan kreteria tersebut, Hart tanpa ragu menetapkan Nabi Muhammad SAW pads urutan pertama sebagai pribadi yang paling berpengaruh yang menghiasi sejarah dunia, yang kedua Issac Newton, yang ketiga Yesus Kristus dengan dua alasan:
1. Muhammad SAW didalam menegakkan agama Islam memegang rol tunggal, sedang ajaran Isa banyak dicampur tangan oleh yang lain. Hart mengatakan: "ST Paul The Main Developer of Christian Theology, it is Proselytize and The Other a Large Portion of The New Testament" (memang Isa yang memegang pokok etik dan moral Kristen, tetapi Paul-lah


sebagai penafsir utama teologi Kristen, bahkan sebagai penulis yang memasukkan ajaran baru, pada sebagian besar perjanjian baru, yang dijadikan sebagai pokok ajaran Kristen").
Muhammad SAW adalah orang yang bertanggungjawab tunggal terhadap Al-Qur'an. Urut-urutan surat yang banyak ayat setiap surat sudah diatur sejak Nabi Muhammad SAW masih hidup. Menafsirkan Al-Qur'an sebagai sumber hukum yang utama, hares melalui sumber hukum yang kedua yakni Al Hadits. Sudah tentu berdasarkan energi otak dan hati yang suci secara terpadu. Kemudian manusia dituntut untuk berijtihad untuk mengatur hidupnya didunia sesuai dengan perkembangan zaman yang terns berubah. Berlainan dengan ajaran Kristen, seperti Hart mengatakan: "No Such Detailed Compilation of The Teaching of Christ has Survived" ("Tidak ada himpunan ajaran Kristen yang begitu terperinci, yang dapat tahan lama").
Lebih lanjut Hart mengatakan: "Christianity unlike Islam was not founded by a single person, but by two people – Yesus and Paul" ("Agama Kristen tidak seperti Islam, yang ditegakkan oleh seorang melainkan ditegakkan oleh dua orang, yaitu Yesus dan Paul, sehingga kehormatannya sukardijamin").
2. Muhammad saw merupakan seorang pemimpin, tidak hanya dibidang keagamaan, tetapi juga dibidang politik keduniaan. Meskipun Muhammad SAW sudah wafat, tetapi pengaruh kontak batin (mawaddah filqurban) dengan umatnya tetap ada, melalui ajarannya. Islam pernah menguasai dua pertiga dunia, tidak lain adalah karena pengaruh ajarannya, yang dibawa oleh Muhammad Rasulullah SAW.
Dalam sejarah umat manusia, memang ada panakluk dunia ialah Jengis Khan dan Monggol (Asia Tengah). Tetapi apa yang dilakukannya tidak bersifat tetap, seperti yang dilakukan Muhammad SAW, Begitu Jengis Khan meninggal, bangsa Monggol tidak terdengar lagi dalam penggung
sejarah, dan percaturan dunia politik. Adapun Nabi Muhammad SAW, kits dapat melihat dengan amat mudah bukti kebesaran beliau, bahwa kaum muslimin meliputi daerah inti (al-ma'muurah) yatiu kaum yang terbentang dari sungai nil di Mesir sampai ke Amudarya di Asia Tengah, dengan perluasan ke Banat dan Timer sejak dari Marakesh sampai Merauke. Bahkan meluas dengan pesat keseluruh permukaan bumf, dengan jumlah 1,5 milyar. Itu yang nampak dimata. Sedangkan yang tidak tampak, Nabi Mummmad SAW mewariskan agama yang oleh Voltair disebut agama yang alami. (artinya wajar, tidak dibuat-buat), sifatnya universal. Sebab agama Islam cocok, muthabiq dengan fitrah manusia dan dengan undang-undang Illahi yang berlaku pada dirinya.
Tapi bagaimana dengan Jengis Khan? Meskipun dia sebagai penakluk dunia, tetapi bekasnya tidak tampak, kecuali cerita tentang kemenangan militernya, dan catatan hitam tentang kekejamannya dalam buku-buku sejarah.
Apa sebabnya? Menurut Marshall G. Hodgson, sejarawan yang ahli dalam peradaban mereka Muhammad SAW menaklukkan manusia. demi membebaskan mereka dari belenggu kebodohan, dari kegelapan dan keterbelakangan, Sedangkan Jengis Khan, justru menghancurkan peradaban manusia, dan mengumbar nafSL! kekejaman.
Lebih dari itu Muhammad SAW memiliki, sumber hukum, ayat al-Qur'an dan al hadits, dengan anjuran untuk berlaku adil, dan berbuat kebajikan melarang berbuat jahat dan permusuhan.
Bagaimana dengan Jengis Khan ? Adapun Jengis Khan, memiliki alat pembunuh yang kejam, berbudi kasardan berhati bengis.
Sewaktu umat Islam sedang mencapai puncak kejayaannya, datanglah Jengis Khan dari arch utara, menaklukkan umat Islam dengan memporak–porandakan kota Baghdad dan peradabannya tanpa ampun. Ratusan ribu kitab



(yang dikarang dan diterjemahkan oleh pem- pemikir Islam ratusan tahun dibuang ditengah-tengah sungai Dajla, sehingga air sungai jernih itu, berwarna biru
Tidak berselang lama, giliran ummat Islam menaklukkan penyerbu bengis dan kejam dari Monggolia itu. Bukan dengan pedang dan kebencian, tetapi dengan Al-Qur'an, iman, akhlakul kaarimah dan cinta kasih. Dengan Rahmat Allah Maha Kuasa, pengikut raja yang bengis dan kejam dari Monggolia itu akhirnya masuk Islam secara serentak.
Itulah contoh keunggulan akhlakul kaarimah dan cinta kasih, diatas kebengisan dan kekejaman, betapaplin perkasanya mereka. Dan itulah, arti diutusnya Nabi Muhammad SAW, sebagai rahmatan lil-alamiin. Make tidaklah sia-sia, contoh kelembutan perilaku Rasulullah, seperti diungkapkan dalam AI-Qur'an yang artinya: "Adalah sebagai rahmatAllah (kepadamu, ya –Muhammad), bahwa engkau bersikap lemah-lembut terhadap mereka. Kalau sekiranya engkau berbudi kasar dan berhati bengis, tentulah mereka akan lari dari sekelilingmu.. Sebab itu maafkanlah mereka, dan mohonkanlah ampun bust mereka ". (QS. Ali-Imran: 159).
Dengan demikian, rahmata lil-alaamin, bukan seperti semboyan kaum komunis: "samarata samarasa tetapi berakhir dengan diktator ploletariat, yang menginjak-injak harkat dan mertabat manusia. Rahmatan lit-alamin, bukan seperti demokrasi liberal yang memupuk kebebasan pribadi tanpa betas (struggle for life), tetapi berakhir dengan 'suvival of the fitter ('siapa kuat siapa diatas, siapa lemah jatuh hancur"). Rahmatan lil-alamin, bukan seperti semboyan bangsa Prancis: liberty, egality, fraternity (kemerdekaan, persamaan, persaudaraan), tetapi bangsa jajahannya dijadikan bangsa budak dan bangsajongos.
Negara-negara yang kita rebut diatas, menamakan dirinya kampium demokrasi, termasuk
Amerika yang pernah menjajah Philipina. Dilihat dari kenyataan itu, demokrasi memerlukan unsur-unsur clasar sebagai peradigma. Unsur¬unsur seperti itu, ada di dalam Islam:
1.1slam adalah agama hokum, sehingga Islam mengenal obyektivitas dalam melihat sesame manusia.
2.Semua manusia menurut Islam diletakkan dalam posisi yang same dihadapan kekuasaan Tuhan yang Maha Besar.
3.Hanya hal-hal; yang mulia yang dianjurkan Islam, seperti: berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kerabat, melarang berbuat keji, dan berbuat jahat, dan permusuhan (QS. An- Nahl: 90).
Oleh karena itu, landasan pertumbuhan diri yang paling utama dan valid menurut Islam adalah mengikatkan "aqidah tauhidullah" iman kepada ke-Esaan Allah "lea ilaaha ilallah" merupakn mainstream – arus utama bins diri yang Islami. Iman berfungsi sebagai pisau analisa untuk memahami dan menegakkan kehendak Tuhan. Itulah yang diperingtkan wahyu Illahi. Friman Allah yang artinya: "Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Qur'an itu, agar masing-masing diri tidak binasa karena perbuatannya sendiri. Tidak ada baginya pelindung, dan tidak pule pemberi syafaat-selain daripada Allah". (QS. Al-An'am: 70).
Mengapa manusia dituntut, agar mengikuti petunjukAl-Qur'an? Karena akal pikiran manusia sangat terbatas, sehingga tidak mampu memecahkan seluruh masalah yang maujud. Sebagaimana Allah SWT menjelaskan "Dan tidaklah kamu diberikan ilmu pengetahuan, melainkan sedikit.'(QS.A1-1sra'., 85).
. Karena itu akal masih memerlukan bimbingan dan petunjuk Al-Our'an an As-Sunnah sebagai'sumber kebenaran".
Semoga Allah selalu - menunjukkan kita kepada jalan yang lampang-!urns. Wallahu a7am bish-shawab.

Jumat, 24 Desember 2010

Muhasabah

Oleh: Nurdin Hasan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
(18) Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
[QS. al-Hasyr (59): 18]
Ayat ini dengan tegas menjelaskan kepada orang yang beriman kepada Allah agar mempunyai langkah antisipatif terhadap kemungkinan apa yang bakal terjadi besok, dapat memprediksi bahkan mempersiapkan hari esok lebih baik, dinamis, lebih mapan, lebih produktif, dari hari ini. Singkatnya, ada perbedaan prestasi dari hari kemarin.

Hari demi hari berlalu, demikian juga minggu demi minggu, bulan dan tahun, baik sebagai individu maupun masyarakat, dalam hari-hari yang berlalu itu, senantiasa mengisi lembaran-lembaran baru pada tahun berikutnya. Lembaran-lembaran itu adalah sejarah hidup kita secara rinci, dan itulah kelak akan disodorkan kepada kita sebagai individu dan masyarakat untuk dibaca dan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah SWT (pada hari kemudian nanti).

Sekarang kita telah meninggalkan tahun 1431 H dan memasuki tahun baru Hijriyah 1432, demikian juga tahun masehi 2010 akan memasuki tahun baru masehi 2011. Setiap akhir tahun dan pergantian tahun bagi kehidupan manusia memiliki makna yang sangat mendalam. Kedalaman makna itu dapat dirasakan setiap manusia itu sendiri oleh karena itu hidup manusia secara pribadi pasti akan berkurang sesuai dengan jatah yang diberikan Allah kepada manusia. Untuk itu manusia sangat perlu sekali melakukan perenungan (tafakur) terhadap diri sendiri terhadap perjalanan hidup ini dan melakukan intropeksi (muhasabah) terhadap diri sendiri apakah posisi kita itu berada pada keberuntungan atau sama seperti tahun lalu, atau kita rugi. Jika kita beruntung tentu perlu ada upaya mempertahankan keberuntungan itu sampai tahun depan, jika kita sama maka kita harus berusaha untuk meningkatkan amal kita untuk tahun depan, jika perjalanan hidupnya itu mengalami kerugian maka pengalaman itu menjadi perjalanan untuk meningkatkan kualitas amal, Iman, dan Taqwa kita agar lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

Rasulullah bersabda:
"Barang siapa keadaan hari ini lebih baik dari pada hari kemarin maka is beruntung, barang siapa keadaan hari ini sama dengan hari kemarin dia tertipu, dan barang siapa keadaan -hari ini lebih jelek dari hari kemarain berarti dia terfaknat."
(HR. Bukhari).

Manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu diri, tahu kemampuan yang ada padaya, tahu perhitungannya mengetahui posisinya dan kedudukan pribadinya dalam interaksi lingkungannya. jika kita kaji lebih dalam, hadis ini merupakan simbol ukhuwah di antara umat Islam dari beraneka struktur masyarakat yang ada, semua lapisan masyarakat, dengan tanpa memandang status sosialnya, bisa memberikan manfaat pada orang lain dengan potensi yang dimilikinya. Sebagai makhluk yang mulia kita perlu merenung, bahwa hidup di dunia ini sangat singkat, sedang kehidupan yang sesungguhnya adalah di akhirat kelak yang kekal abadi. Nabi pernah menerangkan bahwa yang disebut orang kaya bukanlah orang yang berlimpah hartanya, tetapi kaya yang sesungguhnya adalah kaya jiwa. Di sinilah sering kita tidak memahami betapa banyak orang kaya harta tetapi jauh dari kebahagiaan.

Kesadaran dan pengawasan Allah SWT mendorong seorang mukmin untuk melakukan muhasabah (perhitungan) evaluasi terhadap amal perbuatan, tingkah laku, sikap, hatinya sendiri, dalam hal ini Muraqobah berfungsi sebagai jalan menuju muhasabah. Muhasabah dapat dilakukan sebelum dan sesudah amal. Sebelum melakukan sesuatu seorang harus menghitung dan mempertimbangkan terlebih dahulu buruk baik dan manfaatnya dan mudharatnya. Salah satu cara yang kita lakukan untuk bisa memantapkan ketakwaan kita kepada Allah SWT adalah dengan mengevaluasi diri, mengevaluasi apakah amal kita lebih banyak bernilai ibadah atau tidak? Apakah banyak berbuat dosa atau berbuat amal sholeh?.

Hidup di dunia merupakan ujian dan cobaan dan akan dinilai oleh Allah siapakah yang lebih baik amalnya. Sebagaimana firman Allah SWT:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُور
(2) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,
[QS. al-Mulk (67): 2]
Hidup didunia merupakan ujian dan upaya mendapatkan bekal sebanyak­banyaknya bagi kehidupan diakhirat yang bahagia. Oleh karena itu, melakukan perhitungan prestasi amaliah kita merupakan sesuatu yang sangat penting sehingga Rasulullah mengingatkan kepada kita sekalian dengan hadisnya:
"Berbahagialah orang yang senantiasa mencari aib dirinya dari pada mencari aib orang lain"
(HR. Fidaus dari Anas).
Dalam soal apa saja yang kita lakukan dalam menghisab diri pasti akan kita pertanggungjawabkan kepada Allah SWT pada hari kiamat kelak. Apabila hal itu dapat kita pertanggungjawabkan maka bahagialah kita pada kehidupan Akhirat, demikian sebaliknya jika amal yang kita lakukan di dunia tidak bisa kita pertanggungjawabakan, maka menderitalah hidup kita di akhirat kelak. Dalam satu hadis Rasulullah saw menyebutkan tidak beranjak seseorang hamba dari tempat berdirinya pada hari kiamat sehingga ditanya tentang empat perkara
"umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya apakah sudah diamalkan, dan hartanya dari mana diperoleh dan kemana di belanjakan, dan badannya atau kesehatannya untuk apa dipergunakan"
(HR. Tabrani).
Mengingatkan empat hal yang harus dipertanggunjawabkan di hadapan ALLOH SWT pada hari kiamat, maka muhasabah adalah suatu hal yang penting dalam hidup ini. Muhasabah sesudah amal ada 3 macam:
Pertama: Muhasabah hak Allah swt, yaitu tentang keikhlasannya beramal karena Allah, kesesuaian amalannya dengan petunjuk Rasul, sikap ihsannya dalam beramal, dan lain sebagainya.
Kedua: Muhasabah terhadap amalan yang akan lebih baik tidak dilakukan dari pada melakukannya, karena kalau dilakukan akan menimbulkan kemurkaan Allah swt.
Ketiga: Muhasabah terhadap amalan atau kebiasaannya, mengapa dilakukan? Apakah karena menginginkan ridha Allah dan Akhiratnya? Jika memang mencari ridha Allah tentu dia beruntung jika tidak dia akan merugi.

Bila dilihat dari manfaatnya, maka muhasabah mempunyai manfaat sebagai berikut:
Pertama, untuk mengetahui kelemahan diri supaya dia dapat memperbaiki. Orang yang tidak mengetahui kelemahan dirinya sendiri, maka dia tidak akan memperbaiki.
Kedua, untuk mengetahui hak Allah swt. Orang yang tidak mengetahui hak Allah, ibadahnya tidak akan bermanfaat banyak bagi dirinya.
Ketiga untuk mengurangi beban hisab esok hari. Orang yang sudah dihisab hari ini akan amen dari hisab hari esok. Sebagaimana pesan Umar Bin Khattaab r.a:
"Timbanglah dirimu sebelum kamu ditimbang kelak. Karena sesungguhnya akan ringan bagimu menghadapi hisab hari esok hari bile kamu telah menghisabnya hari ini. Berhiaslah kamu untuk hari "pameran besar" dimana pada had itu dirimu akan dipamerkan tanpa ada yang tersembunyi.
(kuliah Akhlak, Yunahar Ilyas 2001. 256-57)
Demikian jugs Allah SWT berfirman,
يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ۖ ذَٰلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيم
(9) (Ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.
[QS at-Taghabun (64): 9]

Wallahu a'lamu bish-showab

Jumat, 10 Desember 2010

HAM Dalam Ilmu Pengetahuan dan Nilai-Nilai Kemanusiaan

Oleh: Sukiman, S.Ag

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِير
(11) Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
[QS. al-Mujadilah (58): 11]
Manusia adalah keluarga tunggal. Seluruh anggota keluarga punya hak dan kewajiban yang sama. Mereka bertanggungjawab atas perwujudan persamaan di antara mereka dengan jiwa persaudaraan, cinta dan perdamaian. Di antara sate dengan yang lainnya tidak ada yang lebih unggul, kecuali dengan aural kebajikan dan ketakwaan yang membawa kesejahteraan ummat keluarga manusia, serta usaha memajukan soliclaritas kehidupan.

Pendidikan adalah hak dan sekaligus kewajiban yang hares dijalankan oleh negara atau masyarakat. Keduanya saling menunjang atas kelancaran jalannya pendidikan untuk menimbah ilmu pengetahuan Menjamin keberagamaannya, sesuai dengan realiatas kesejahteraanmasyarakat. Ummat manusia diberi, kesempatan mengatahui hekikat semesta, menundukkan bagi kebaikan dan kesejahteraanya.

Dalam sejarah umat manusia, Islam yang pertama kali menggemakan bahwa dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan adalah diperuntukkan bagi semua manusia, yang pada gilirannya nanti menjadi tanggungjawab pars cendekiawan.

HAM dalam Islam didasarkan pada "persamaan", sebagaimana firman Allah:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِير
(13) Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
[QS. al-Hujurat (49): 13]
Persamaan tersebut ditetapkan oleh Islam secara menyeluruh, apakah yang menyangkut hak-hak sipil tertentu atau hak-hak umum. Di antarnya hak asasi dibidang pendidikan, perburuan d1l.
Mengenai HAM dalam pendidikan dan pengajaran, dimana Islamlah yang pertama memberikan pedoman dan prinsipnya di antaranya:

Pertama, Islam menegakkan persamaan di bidang hukum dan dasar-dasar terapannya, baik bagi kaum Muslimin maupun non muslim. Mereka yang berada di negara Islam atau yang tunduk terhadap Islam mendapatkan hak yang sama seperti hak kaum muslim dengan kewajiban-kewajibannya. Bahkan tanpa harus mendiskriminasikan antara Muslim dan non Muslim.

Kedua, Islam memberikan hak belajar kepada -laki-laki dan wanita, dengan memperkenankan wanita untuk menimba ilmu pengetahuan clan kebudayaan sampai sempurna dalam masalah-masalah keagamaan, sosial kemasyarakatan, problema-problemanya serta memberikan metode pendidikan kepada anak-anaknya. Karena mencari ilmu merupakan kewajiban bagi kaum muslimin dan muslimat.

Ketiga, Islam selalu mewajibkan menuntut ilmu pengetahuan bagi mereka yang belum belajar. Bagi yang berilmupun harus mengamalkan illmunya walaupun hanya satu ayat saja.

Keempat, Islam menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, dalam AI-Qur'an dijelaskan:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِين
(34) Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
[QS. al-Baqarah (2): 34]
Hal ini tidak lain karena untuk membedakannya dengan malaikat, bahwa Adam diberi kapasitas akal untuk berfikir dan mendapatkan ilmu pengatahuan yang sempurna.

Allah SWT memberikana gambaran tentang ilmu pengatahuan agar manusia mau menganalisa dan mempelajari apa yang ada dalam penciptaan langit dan bumi supaya manusia mau berfikir. Dalam al-Qur'an disebutkan:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُون
(164) Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
[QS. al-Baqarah (2): 164]
Bahwa Islam selalu memberikan motivasi kepada umat manusia khususnya bagi orang¬orang Islam agar selalu berfikir dan mengukuhkan kekuatan rasional yang pada gilirannya akan memproduk ilmu pengatahuan dan teknologi untuk hidup dan kehidupan manusia baik untuk kepentingan dunia maupun akherat.

Allah SWT tidak memberikan batasan ilmu pengetahuan tertentu kepada manusia, hanya menganjurkan agar manusia mendalami ilmu pengetahuan yang mengandung kemaslahatan agama dan dunia. Agar ilmu pengetahuan tersebut dapat memancarkan sinar ke segenap umat manusia khsusunya bagi umat Islam.

Iman menjadikan dasar dan pijakan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan agar nantinya tidak menyimpang dari nilai-nilai agama dan moral Islam. Ilmu pengetahuan merupakan hak yang harus mengalir pada segenap ummat manusia. Allah tidak pernah mengutus Rasul-Nya kecuali dengan pengajaran, baik itu melalui kitab yang diturunkan-Nya atau melalui tuntunan yang indah dan mudah di mengerti. Islam melarang perdebatan yang menimbulkan konflik dengan saling mencemooh dan menghina. Sebagaimana firman Allah:
وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِين
(68) Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).
[QS. al-An'am (6): 68]
كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَالْأَحْزَابُ مِنْ بَعْدِهِمْ ۖ وَهَمَّتْ كُلُّ أُمَّةٍ بِرَسُولِهِمْ لِيَأْخُذُوهُ ۖ وَجَادَلُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ فَأَخَذْتُهُمْ ۖ فَكَيْفَ كَانَ عِقَاب
(5) Sebelum mereka, kaum Nuh dan golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka telah mendustakan (rasul) dan tiap-tiap umat telah merencanakan makar terhadap rasul mereka untuk menawannya dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu Aku azab mereka. Maka betapa (pedihnya) azab-Ku?
[QS. al-Mu'min (40): 5]

Islam mengamcam orang-orang yang tidak memanfaatkan hak belajarnya. Di ancam dengan penghuni neraka, disejajarkan dengan binatang, bahkan lebih buruk lagi. Sebagaimana firman Allah:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُون
(179) Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
[QS. al-A'raaf (7): 179]

Betapa luasnya ruang lingkup ilmu pengetahuan dan hak belajar dalam Islam. Berbagai aspek dunia dan akhirat, bumi dan langit, mated dan jiwa dan medan menjadi medan yang tiada tars. Islam benar-benar mengerahkan akal untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Maka dibukakan cakrawala langit dan bumi, di depannya terbuka buku semesta. Allah SWT mengingatkan hamba-hamba-Nya untuk mengetahui betapa luasnya semesta slam ini. Firman Allah yang artinya:
وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيم
(27) Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
[QS. Luqman (31): 27]
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيم
(255) Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
[QS. al-Baqarah (2): 255]
فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُ ۖ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
(114) Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan".
[QS. Thaha (20): 255]

Oleh karena itu merupakan kewajiban bagi manusia urduk mengkaji ilmu-ilmu Allah menurut, kemampuannya, karena tentu saja manusia tidak akan mampu melihat semua ilmu-Nya, oleh karena itu ilmu ini cukup luas dalam Islam tergantung sejauhmana manusia khususnya bagi orang-orang Islam mau mengkaji dan mempalajari ilmu pengatahuan ini. Ilmu pengetahuan sangatlah luas sebagai arena untuk belajar. Ketegasan al-Qur'an, tentang luasnya cakrawala ilmu pengetahuan:
أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ وَأَنْ عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ ۖ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُون
(185) Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?
[QS. al-A'raaf (7): 185]
Di ayat yang lain:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّار
(191) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
[QS. Ali Imran (3): 191]
Demikianlah, kita temui hak asasi belajar dan nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan dan ilmu pengetahuan, disamping mendudukkan seluruh posisi kebenaran yang menjarah cakrawala, yang meletakkan kedudukan manusia secara terhormat.Akankah kita kembali pads peradabannya? Apakah telaga dalamnya merupakan cumber inspirasi kita? Lalu kita meminum, hingga ummat Islam ini berada di tengah-tengah dunia yang penuh dengan peradaban?.

Wallahu a'lam bishawab.

Jumat, 26 November 2010

Membangun Peradaban Berbasis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Oleh: Mochammad Ja'far, S.Pdi
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِير
(11) Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
[QS. al-Mujadilah (58): 11]
Berkembangnya agama Islam sejak 14 abad silam turut mewarnai sejarah peradaban dunia. Bahkan, pesatnya perkembangan agama Islam itu, baik di Barat maupun Timur, pada abad ke-8 sampai 13 Masehi mampu menguasai berbagai peradaban yang ada sebelumnya. Peradaban Islam dianggap sebagai salah satu peradaban yang paling besar pengaruhnya di dunia. Bahkan, hingga kini, berbagai jenis peradaban Islam itu masih dapat disaksikan di sejumlah negara bekas kekuasaan Islam dahulu, misalnya Irak, Spanyol, Mesir, Turki, Damaskus, Kufah, Syria, dan sebagainya.

Peradaban Islam terus berkembang dari peradaban kebudayaan, bangunan, bahasa, adat istiadat, hingga pads ilmu pengetahuan. Peradaban Islam adalah peradaban ilmu. Lalu, berkembang menjadi tradisi pemahaman terhadap Al-Qur'an sehingga lahir intelektual Islam.

Sejarawan Barat beraliran konservatif, W Montgomery Watt menganalisa tentang rahasia kemajuan peradaban Islam, ia mengatakan bahwa Islam tidak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama. Satu dengan yang lain, dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syariat Islam, sama pentingnya dan memiliki prioritas yang sama dengan riset-riset ilmiah.

Sayangnya, perkembangan peradaban Islam itu secara perlahan kini mengalami kemunduran. Ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, yang kini dipimpin oleh peradaban Barat satu abad terakhir ini, mencengangkan banyak orang di berbagai penjuru dunia, untuk mengembalikan kejayaan peradaban Islam itu, dibutuhkan kreativitas dan inovasi dalam membangkitkan semangat umat kembali.

Penghargaan Islam Terhadap Ilmu Pengetahuan.
Islam, sebagai agama penyempurna dan paripurna bagi kemanusiaan, sangat mendorong dan mementingkan umatnya untuk mempelajari, mengamati, memahami dan merenungkan segala kejadian di alam semesta. Dengan kata lain Islam sangat mementingkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ummat Islam wajib untuk menguasai dan memiliki keunggulan dalam kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana kehidupan sebagai sarana yang penting untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Allah SWT menegaskan dalam firmannya:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۚ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُون
(43) Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,
[QS. an-Nahl (16): 43]
Kemampuan menguasai ilmu pengetahuan clan teknologi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan iman clan anal shaleh yang menunjukkan derajat kaum muslimin. Bahkan Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu sebagaimana firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِير
(11) Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
[QS. al-Mujadilah (58): 11]
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَاب
(9) (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
[QS. az-Zumar (39): 9]
Pentingnya Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Pengembangan ilmu pengetahuan sangat di didorong oleh Islam. Hal ini harus diupayakan melalui pembangunan budaya ilmu di lembaga pendidikan dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi dan harus ditunjang riset-riset / penelitian yang terus menerus. Allah SWT menegaskan dalam firmannya:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُون
(122) Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
[QS. at-Taubah (9): 122]
Ada lebih dari 800 ayat dalam A]-Quran yang mementingkan proses perenungan, pemikiran dan pengamatan terhadap berbagai gejala alam, untuk ditafakuri dan menjadi bahan dzikir (ingat) kepada Allah. Yang paling terkenal adalah ayat:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَاب
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّار
(190) Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (191) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
[QS. Ali Imran (3): 190-191]
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِير
(11) Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
[QS. al-Mujadilah (58): 11]

Keduanya adalah merupakan ayat-ayat (atau tanda-tanda) ke-Maha Kuasa-an dan Keagungan Allah SWT. Ayat tanziliyah naqliyah (yang diturunkan atau transmitted knowledge), seperti kitab-kitab suci dan ajaran para Rasul Allah (Taurat, Zabur, Injil dan al-Quran), maupun ayat-ayat kauniyah (fenomena, prinsip-prinsip dan hukum alam), keduanya bila dibaca, dipelajari, diamati dan direnungkan, melalui mata, telinga dan hati (qalbu + akal) akan semakin mempertebal pengetahuan, pengenalan, keyakinan dan keimanan kita kepada Allah SWT. Tuhan Yang Maha Kuasa, Wujud yang wajib, Sumber segala sesuatu dan segala eksistensi. Jadi, agama dan ilmu pengetahuan, dalam Islam tidak terlepas satu sama lain. Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua sisi koin dari satu mata uang koin yang sama. Keduanya saling membutuhkan, saling menjelaskan dan saling memperkuat secara sinergis, holistik dan integratif.

Al-Qur'an, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Pandangan al-Qur'an tentang ilmu dan teknologi dapat diketahui prinsip-prinsipnya dari wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw. Allah SWT menegaskan dalam firmannya:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَق
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَق
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَم
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَم
عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَم
(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
(2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
(3) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
(4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
(5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
[QS al-Alaq (96): 1-5]
Iqra' berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri. Iqra' terambil dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca baik teks tertulis maupun tidak. Al-Qur'an menghendaki apa saja selama bacaan tersebut bismi Rabbik, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Membaca berkaitan dengan ilmu, kata ilmu dengan berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam al-Qur'an. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan. Dalam pandangan Al-Qur'an, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul terhadap makhluk-makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan. Hal ini tercermin dari kisah kejadian manusia pertama yang dijelaskan Al-Qur'an:
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِين
قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيم
(31) Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
(32) Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana".
[QS. al-Baqarah (2): 31-32]
Manusia menurutAl-Qur'an, memiliki potensi untuk meraih ilmu dan mengembangkannya dengan seizin Allah. Karena alam semesta yang dipelajari melalui ilmu Pengetahuan, dan ayat-ayat suci Tuhan (Al-Quran) dan Sunnah Rasulullah saw yang dipelajari melalui agama, adalah sama-sama ayat-ayat (tanda-tanda dan perwujudan/tajaiiyat) Allah swt, maka tidak mungkin satu sama lain saling bertentangan dan bertolak belakang, karena keduanya berasal dari satu Sumber yang sama, Allah Yang Maha Pencipta dan Pemelihara seluruh Alam Semesta.

Ummat Islam dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki mempunyai kewajiban untuk mengajarkan kepada masyarakat, memberikan, memanfaatkan untuk kemaslahatan, dan mencerahkan kehidupan sebagai wujud ibadah, jihad dan dakwah. Allah SWT menegaskan dalam firmannya:
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُون
(151) Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.
[QS. al-Baqarah (2): 151]
Rasulullah SAW pun memerintahkan para orang tua agar mendidik anak-anaknya dengan sebaik mungkin.
"Didiklah anak-anakmu, karena mereka itu diciptakan bust menghadapi zaman yang sama sekali lain dari zamanmu kini." (Al-Hadits Nabi saw).
"Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setup Muslimin, Sesungguhnya Allah mencintai para penuntut ilmu."(Hadis Nabi saw).
Ilmu Pengetahuan Penopang Peradaban
Ilmu pengetahuan dan teknologi ditujukan untuk memaksimalkan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan mencapai kesejahteraan manusia. Hal tersebut dapat menopang peradaban dan menjaga bumi dari kerusakan dan kehancuran sebagaimana firman Allah:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِين
(77) Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
[QS. al-Qashas (28): 77]
Pengembangan ilmu agama dan ilmu pengetahuan
harus berjalan selaras beriringan, karena sesungguhnya semua ilmu berasal dari Allah SWT. Ilmu pengetahuan dan teknologi sesungguhnya harus digunakan untuk membangun kesejahteraan manusia dan menjaga bumi dari kerusakan. Sedangkan agama berfungsi sebagai pembangun moral. Ilmuwan barat Einstein pernah mengatakan, "I1mu tanpa Agama Buta, dan Agama tanpa ilmu lumpuh." Dengan semangat untuk mencapai keunggulan ilmu pengetahuan, kreativitas, inovasi pengembangan teknologi dan menjunjung tinggi moral agamalah, maka peradaban Islam dapat tegak dan mewarnai peradaban dunia.

Fastabiquulkhairat.

Wallahualam bis shawab.

* Guru SD Muhammadiyah 8 KH Mas Mansur Mahasiswa S2 UIN Malang.

Jumat, 19 November 2010

Mencari Faktor Kemunduran Umat Islam dan Alternatif Jalan Keluarnya

Oleh: Drs. Lukman Hadi, SH.,MH

Telah ku tinggalkan kepadamu dua perkara yang kamu tidak akan tersesat selamanya sepanjang berpegang teguh kepadanya, yakni Kitabullah (Al-Qur'an) dan as-Sunnah.

Setiap pribadi muslim mempunyai kewajiban moral untuk berjuang dan memikirkan nasib serta kondisi umat Islam pada saat ini, sebab Nabi Muhammad SAW telah bersabda:
"Siapa yang mengaku umatku, kata Nabi, engkau Islam, tetapi tidak perduli terhadap kaum muslimin, tidak perduli terhadap jatuh bangunnya Islam, sakit sehatnya umat Islam, berarti bukan umatku, bukan golongan Islam itu sendiri".
Oleh karena itu sebagai Muslim dengan segala kemampuan yang ada pada diri kita, sesuai dengan profesi dan posisi masing-masing yang telah dikarunia Allah kepada kita, kita pergunakan semaksimal mungkin untuk membela dan memperjuangkan Islam dan umatnya, kalau betul kita mencintai Islam, mencintai Allah dan RasulNya. Inilah potret pribadi Muslim yang utuh, yang sanggup ditampilkan di tengah-tengah umat manusia untuk membela dan mempertahankan serta mengembangkan Islam.

Pribadi-pribadi Muslim yang senantiasa bekerja keras dan secara fundamental berpegang teguh pada ajaran Islam yang bersumber kepada al-Qur'an dan as-Sunnah. Karena kedua pedoman ini sudah dijamin kebenaran dan kemampuhan oleh Allah SWT. Dengan dua pedoman pokok inilah Kaum Muslimin dapat selamat dari segala bentuk kesesatan dan malapetaka.

Kalau kita menengok ke belakang panggung sejarah Islam masa lalu, maka tidaklah berlebihan apabila kita kemukakan, bahwa kemajuan dan perkembangan umat Islam pada masa dahulu diperoleh atau dicapai dengan mengikuti dan mentaati ajaran Islam secara murni dan konsekuen. Mereka bersikap dan berfikir di atas landasan ajaran yang telah digariskan oleh Allah dan RasulNya.

Nabi Muhammad SAW, dengan ajaran Islamnya telah merubah citra dan kebiasaan bersatu padu, se-iya sekata dibawah naungan panji petunjuk dan pimpinan ajaran Islam yang benar. Bangsa arab yang dahulunya biasa menjadi berada, dari bodoh menjadi pandai dan cerdik, dari kekerasan hati dan kerasnya perangai menjadi lembut, ramah tamah kasih sayang terhadap sesama, dan dari bangsa politeisme penyembah berhala menjadi monoteisme menyembah Allah Yang Maha Esa.

Dengan demikian jelas bahwa pada saat itu ajaran Islam telah mampu menjadikan spirit baru dalam melakukan perombakan besar serta mendasar dalam berubah watak dan karakter bangsa Arab. Kalau umat Islam menghayati dan mengamalkan Islam secara integral dalam arti yang sebenarnya, maka umat Islam akan terangkat martabatnya keposisi yang terhormat, sebagaimana generasi umat Islam terdahulu yang pernah tampil ke depan memimpin dunia disegani umat lain.

Apabila kita menyimak secara seksama tentang faktor-faktor yang mendorong kemajuan umat Islam di masa lalu, maka kita akan sepakat bahwa faktor-faktor tersebut kini mulai sima dan tidak melekat lagi pada umat Islam, yang ada hanya puing-puingnya saja yang menjadi kenangan sejarah masa lalu.

Untuk itu marilah kita melacak faktor-faktor yang menjadi penyebab kemunduran dan kemerosotan umat Islam saat ini, yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli, Diantaranya Al Amir Syakib Arsalan dalam kitabnya: "Limadzaa Ta'akhorol Muslimin Wa Limadza Taqoddama ghoirin". Dengan tegas beliau telah mengemukakan beberapa faktor penyebab yang terbesar dan terpenting sebagai faktor kemunduran umat Islam diantaranya ialah:
  1. Kebodohan
    Kebodohan inilah yang menyebabkan umat Islam mudah sekali dibohongi dan diombang­ambingkan. sebab tidak dapat membedakan mana yang merugikan dan mana yang menguntungkan.
  2. Kerusakan budi pekerti.
    Umat Islam telah kehilangan perangai sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Al-Qur'an, meninggalkan akhlak mulia yang telah dicontohkan oleh Raslulullah SAW. Dan pars sahabat serta salafushsholihin. Budi pekerti, mulia sungguh sangat besar peranannya dalam rangka membangun umat dan bangsa.

    Dalam pada itu Syauki Beik telah mengingatkan: "Susungguhnya umat-umat itu tidak lain melainkan budi pekerti, selam budi pekerti itu tetap ada pada suatu umat maka umat itu tetap ada, dan jika budi pekerti itu lenyap, maka mereka itupun ikut lenyap."
  3. Kebejatan moral dan kerusakan budi pekerti para pemimpinnya.
    Munculnya pemimpin diktator dan otoriter yang bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan rakyat dan menumpas golongan/kelompok yang ingin meluruskan perbuatan mereka.
  4. Sikap penakut dan pengecut.
    Dahulu umat Islam terkenal sebagai umat pemberani, dapat mengalahkan musuh yang berlipat ganda jumlahnya. Tapi sekarang umat Islam dilandasi rasa takut, dan rasa takut inilah yang menyebabkan Umat Islam menjadi penakut dan pengecut.
Menurut Lotrop Stodart dalam bukunya "The New World of Islam" telah mengemukakan beberapa faktor penyebab kemunduran umat Islam. Secara ringkas dapat dikemukakan antara lain:
  1. Kambuhnya rasa permusuhan dikalangan umat Islam.
  2. Rusaknya ajaran Islam, akibat dari bermacam macam penafsiran yang menyimpang sari esensi ajaran Islam.
  3. Sikap jumud/beku yang dialami umat Islam, dengan menyelubungi ketauhidan yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan khufarat dan faham kesufian.
  4. Merosotnya akhlak dan kehormatan diri. Semua berlangsung tanpa rasa takut dan malu.
Dan dalam kenyataan yang ada pada saat ini kita lihat dan rasakan upaya-upaya untuk memundurkan umat Islam yang dilakukan dengan serius dan sistematik, yaitu diantaranya dengan jalan:
  1. Menjauhkan umat Islam dari Al-Qur'an
  2. Menghancurkan akhlak umat Islam .
  3. Memecah belch persatuan dan kesatuan umat Islam.
  4. Menanamkan keraguan terhadap ajaran Islam
  5. Merintangi kemajuan umat Islam.
Inilah diantara beberapa faktor penyebab bagi kemunduran umat Islam, yang akibatnya umat Islam diremehkan dan tidak disegani oleh umat lain, umat Islam menduduki peringkat bawah dan hanya sebagai pengikut, bukan sebagi pemimpin, sehingga mudah sekali dikendalikan dan diombang­ambingkan, pada gilirannya satu sama lain mudah diadu domba. Inilah yang mengakibatkan umat Islam berantakan, tidak sempat mengejar ketertinggalannya.

Setelah kita mengemukakan beberapa faktor penyebab bagi kemunduran umat Islam, maka dengan segera kita mencari alternatif pemecahannya sebagai jalan keluar dari kemelut kemunduran dan kejumudan yang dialami oleh umat Islam pada saat ini. Sebab kalau tidak, maka umat Islam akan berlarut-larut menjadi umat yang minder dan bercerai-berai serta semakin sulit untuk mengejar ketertinggalannya.

Untuk itu Jamaludin al-Afghani telah memberikan beberapa alternatif jalan keluar, diantaranya ialah:

  1. Memberantas kemiskinan dan kebodohan yang sampai saat ini masih membelenggu umat Islam.
  2. Melenyapkan pengertian-pengertian yang salah yang dianut oleh umat Islam pads umumnya.
  3. Kembali pads ajaran-ajaran dasar Islan yang sebenarnya.
  4. Hati nurani harus disucikan
  5. Budi pekerti luhur mesti harus dihidupkan kembali.
  6. Kesediaan berkurban untuk kepentingan umat.
  7. Berpedoman kepada ajaran-ajaran dasar Islam. Dengan ini umat Islam akan bergerak maju mencapai kemajuan
  8. Mewujudkan kehidupan demokrasi
  9. Mewujudkan persatuan umat Islam Dalam rangka mewujudkan ukhuwah atau persatuan umat Islam.

Islam telah memberikan kerangka landasan yang kokoh, agar ukhuwah Islamiyah dapat terjalin dengan baik, yaitu:

  1. Hares dilandasi dengan Iman dan takwa.
  2. Di dasari rasa ikhlas karena Allah.
  3. Terikat dalam nilai-nilai Islam yang bersumber kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah.
  4. Saling mengingatkan dan memberi nasihat yang baik
  5. Setia dan menjalin kerjasama dalam segala hal yang mengarah kepada kebaikan.

Inilah beberapa agenda yang harus digarap oleh umat Islam untuk mengejar ketertinggalan yang dialami oleh umat Islam. Dengan demikian umat Islam akan kembali pada masa kejayaan seperti sedia kala dan disegani oleh umat lain.

Dengan menyikapi dan mencermati kondisi kritis yang melanda Islam dewasa ini, maka yang harus dicamkan bahwa dalam hal ini tidak perlu menyalahkan umat lain dan meminta pertanggung jawaban terhadap stagnasi yang lama melanda umat Islam dan kemerosotan yang nyata-nyata terjadi dalam dunia Islam. Kemunduran dan kemerosotan yang saat ini melanda umat Islam harus ditimpahkan dan dialamatkan kepada umat Islam sendiri, yang tidak mau hidup menurut ajaran Islam dengan berpedoman kepada Al-Qur'an dan as-Sunnah. Umat Islam kurang selektif dalam mentransfer ajaran-ajaran budaya di luar Islam, sehingga ajaran-ajaran dan budaya tersebut ditelan mentah-mentah yang akibatnya umat Islam kehilangan jati diri dan semangat berjuang, serta tidak sanggup lagi berkompetisi dan berpacu menghadapi kemajuan jaman.

Untuk itu tidak ada alternatif lain kecuali secara total kita harus kembali kepada pedoman pokok, yaitu al-Qur'an dan as-Sunnah, karena dengan dua pedoman inilah umat Islam menjadi umat terbaik, terhormat dan teratas, Amin.

Wa allahu a1amu bishawab

* Hakim pengadilan Agama Malang