Sabtu, 17 April 2010

Metode Dakwah, Menguatkan Organisasi dan Mengembangkan Jaringan Dakwah (Manajemen Dakwah) di Era Global

Oleh: Drs. H. Moh. Nasikh, M.Si.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
[QS an-Nahl (16): 125]

Muqaddimah\
Dalam rangka untuk mengembangkan jaringan dakwah kebenaran (dakwatul haq) atau sesuai dengan jalan ALLOH, maka bagi pelaku atau pelaksana dakwah (dai) harus banyak memahami kunci-kunci dasar metode dakwah yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan dunia global yang semakin kompleks dan menuntut kemajuan dalm berbagai bidang penanganan (garapan) terurama yang berkaitan dengan dakwah modern (dakwatul waaqi'). Dia harus memahami bahwa kunci keberhasilan dakwah banyak ditentukan oleh persiapan yang matang, kualitas pelaku atau pelksana dakwah, input (masukan) yang dijadikan masukan dakwah, proses yang sedang dilakukan dan persepsinya tentang output (keluaran) atau ukuran-ukuran (indikator-indikator) yang dapat dipakai untuk menentukan keberhasilan dakwah.

Disamping dia harus memahami metode dakwah yang benar di atas, maka target dakwah, persepsi dakwah, subjek dakwah, sifat-sifat dasar yang harus dimiliki pendakwah, karakteristik pendakwah, keterampilan pendakwah, karakteristik pendakwah, keterampilan pendakwah, objek (sasaran) dakwah, target tarbiyah (pendidikan) dakwah, kode etik dakwah, taktik dakwah dan sebagainya harus juga dipahami dan dimengerti dengan baik. Semua itu tidak akan dibahas di sini, tapi hanya ditekankan pada metode dakwah yang tepat saja yang sesuai dengan kebutuhan dunia global sekarang.

Globalisasi Informasi
Dunia global yang membawa dampak positif dan negatifnya sendiri harus dihadapi dengan segala macam kensekuensi oleh pelaku dakwah (dai) dengan menampilkan metode dakwah yang tepat, efisien, efektif dan produktif, bila tidak ingin dakwahnya terkubur hidup-hidup, atau tersisihkan dari kancah kehidupan atau tercibirkan oleh orang lain, bahkan tidak mendapatkan tanggapan sama sekali dari objek dakwah (mad'u).

Bila ingin survive (langgeng) dan mengalami kemajuan atau perkembangan yang pesat, maka pendakwah aharus mampu menghadapi segala kemungkinan yang terjelek sekalipun yang terjadi di era global saat ini. Dunia yang pada awalnya luas dan besar, sekarang telah menjadi sempit dan kecil seakan seperti sebuah desa kecil (small village) karena terkontraksi atau termampatkan oleh adanya teknologi informasi yang cepat.

Globalisasi informasi yang begitu cepat ini membawa kemajuan yang luar biasa dalam semua bidang kehidupan dan juga sekaligus membawa dampak negatifnyatersendiri, atau ada pula yang mengarah pada hal-hal yang positif dan ada pula yang negatif. Di antara hal-hal yang positif itu antara lain, orang cenderung berfikir rasional dan pragmatis, atau lebih cenderung memikirkan pada efisiensi, efektifitas, dan produktifitas, terutama dalam penggunaan waktu dengan sebaik-baiknya.

Namun, dibalik itu, ada hal-hal negatif sebagai dampak globalisasi informasi yang memerlukan penanganan dakwah secara terencana dengan baik, misalnya pergaulan muda-mudi (pacaran) yang semakin tambah bebas (tanpa batas), sampai pada hubungan di luar negeri, hetero sex (ganti-ganti pasangan); dan banyak di antara mereka yang etrejebak dengan perangkap syaitan berupa zina, mulai dari sekedar KNP (kissing, necking, petting) sampai free sex (sex bebas), ikhtilat (campur baur), khalwat (berduaan), tersebar dan meluasnya pornografi dan pornoaksi di berbagai media massa (cetak, elektronik, visual, audio visual), sinema, sinetron, dan striptease (penari bugil), dan sebagainya. Semua itu jelas-jelas membawa misi iblis (abolisme) dan jelas membawa dampak pada rusaknya norma dan etika di tengah-tengah masyarakat. Padahal ALLOH SWT sangat melarang perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada (pendekatan) perzinaan. Mendekati saja sudah dilarang, apalagi melakukannya. (QS al-Isra' (17): 32).

Sebab-sebab Deviant Culture
Budaya informasi yang demikian merusak telah meracuni sebagian besar generasi bangsa ini di masa kini dan di masa yang akan datang dengan mudah terpengaruhnya mereka oleh deviant culture (budaya yang menyimpang) dari budaya yang baik, yang mengakibatkan tindakan-tindakan yang bersifat anomali (penyimpangan) sosial.

Penyebab-penyebab penyimpangan ini kurang lebihnya disebabkan karena kurangnya berfikir secara proporsional, lemahnya pemahaman dan aplikasi terhadap nilai-nilai dan norma-norma Islam, vulgaritas media informasi elktronik, seperti TV, komputer, internet, audio visual dan sebagainya serta minimnya filter bagi para pelaku media-media tersebut, sehingga banyak pornoaksi dan pornografi yang lolos sensor bertebaran di tengah-tengah masyarakat. Di samping itu juga karena masyarakat kita masih lebih suka meniru (demostration effects), lebih suka mengekor ke barat (westernisasi) terutama dalamhal budaya, kurangnya ketegasan atau niat baik (good will) atau keinginan politik (political will) dari para pengambil kebijakan.

Masih banyak lagi sebab yang lain, antara lain, masyarakat kita lebih suka mengadopsi gaya hidup modern yang lebih menonjolkan paham-paham sekularistik, materialistik, liberalistik, hedonistik, kapitalistik, dan sebagainya, sehingga ummat semakin jauh dari kehidupan yang semestinya dan sebenarnya sesuai dengan harapan dan kehendak ALLOH SWT. Tidak sekedar adab dan sopan santun, banyak para remaja atau orang dewasa dalam masyarakat kita sudah kurang memperhatikan adab dan kesopanan, mereka mulai berani membuka aurat, sampai pada pada cara makan secara bebas seperti binatang. (QS. Muhammad (47): 12), termasuk juga budaya yang permisif (serba boleh) sebagai bagian dari gaya hidup kesehariannya.

Metode yang Tepat
Dengan berangkat dari pemikiran di atas, maka tanggung jawab para pelaku dakwah atau pelaksana dakwah adalah bagaimana mampu menerapkan metode dakwah yang tepat sesuai dengan kebutuhan dari sasaran dakwah yang banyak menyimpang di atas. Metode dakwah adalah cara-acara yang digunakan atau diterapkan dalam proses dakwah agar sasaran dakwah (mad'u) dapat dicapai dengan hasil yang baik dari kebutuhan-kebutuhan dan permasalahan-permasalahan mereka, dan dapat terjadinya satu proses tranformastional (yang terkait dengan perubahan) diri sesuai dengan cara kenabian (propetik) yaitu dari kondisi kegelapan (dhulumat) kepada kondisi terang (hidayah). Maka cara-cara tersebut tidak dapat lepas dengan dasar al-Qur'an surat an-Nahl ayat 125 yang apabila diringkas adalah sebagai berikut:
  1. Pelaksana dakwah (dai) harus mampu mempergunakan ilmu dan metode yang tepat (artinya secara bijaksana = bil hikmah), dengan menggunakan pelajaran yang baik dan tepat (mau'idhoh hasanah), dan dengan ber-hujjah / berargumentasi / berdiskusi / berdebat secara baik pula mujadalah billati hiya ahsan)

  2. Di samping itu, pelaku dakwah harus mengembangkan organisasi dakwah modern, karena dalam berdakwah ini tidak bisa berdiri sendiri, tanpa bantuan teknologi dan informasi serta orang lain. Organisasi ini haru didirikan dalam rangka untuk menguatkan perkembangan dakwah di masa yang akan datang. Penguatan organisasi ini adalah dalam upaya untuk selalu meningkatkan spirit of change (semangat perubahan menuju yang lebih baik) agar organisasi dakwah dapat mengalami kemajuan dan perkembangan yang signifikan (berarti) di masa yang akan datang.

    Di antara faktor-faktor yang harus dikembangkan oleh pelaku dakwah agar organisasi dakwah semakin mengalami kemajuan adalah antara lain dengan menggunakan faktor-faktor produksi manajemen dakwah, yaitu: men (SDM) yang mempunyai kemampuan dan keterampilan yang mumpuni dalam bidang dakwah, material (bahan baku atau calon SDM) yang siap bekerja dan berdakwah untuk dicetak sebagai pelaku-pelaku dakwah juga harus mempunyai kualitas yang diharapkan, machine (mesin atau peralatan) yang sesuai dengan kebutuhan atau yang canggih berupa teknologi informasi internet dan sebagainya juga harus dipersiapkan untuk proses transformasi di atas, method (metode) yang digunakan juga tepat sesuai dengan waktu/kapan, siapa, di mana/tempat, dan sasaran, money (uang atau modal) yang digunakan untuk pengembangan efek kelipatan (multiplier effect) jumlah sasaran dakwah yang semakin maju dan bertambah di masa yang akan datang juga sangat diperlukan, dan yang terakhir adalah market (pasar) yang digunakan sebagai tempat pelemparan kader-kader dakwah yang mumpuni juga tersedia dan betul-betul sangat kondusif untuk mengembangkan dakwah di masa yang akan datang.

  3. Setelah menerapkan upaya penguatan organisasi dakwah modern tersebut, maka target berikutnya adalah mengembangkan jaringan dakwah modern sebagai upaya untuk memajukan dakwah di tengah-tengah ummat dengan cara memperluas simpul-simpul sambungan dakwah, sehingga dakwah semakin mengalami kemajuan dan perkembangan.

    Langkah yang dapat ditempuh dalam hal ini antara lain dengan jalan mempersiapkan para pelaku dakwah dari kalangan kampus yang berdakwah dalam lingkungan intern kampus, maupun dari kalangan luar kampus (kiai, ustadz, muballigh) yang akan terjun di tengah-tengah masyarakat. Keduanya harus selalu ada komunikasi, koordinasi dan konsolidasi yang baik.

    Perlu juga adanya koordinasi dengan lembaga-lembaga dakwah yang ada di masyarakatseperti masyarakat pesantern, pegawai, buruh, petani, akdemisi, politisi, pengusaha dan sebagainya. Perlu dibina hubungan yang akrab antarakampus sebagai pusan pendidikan dan pembinaan (trbiyah) dengan para kiai, muballigh, dai serta pondok pesantren dalam rangka keterpaduan dakwah.

    Perlu juga dipetakan dari sasaran dakwah dengan penggolongan 4 kriteria, misalnya: yang diharapkan sebagai pendukung, yang diharapkan sebagai simpatisan, yang diharapkan sebagai penggembira, dan yang masih dianggap di luar pagar.

    Perlu dikembangkan model dakwah terpadu dengan menggunakan basis teknologi informasi (TI) dalam rangka pengabdian kepada masyarakat dari pusat-pusat dakwah dalam pengertian secara luas, seperti: stasiun radion, stasiun TV, pusat bisnis Islami, Markaz Islami atau market Islami, entertain Islami, dan sebagainya yang semua itu untuk mewujudkan dakwah yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan di era global di masa sekarang ini.

    Pendekatan dakwah hendaknya tetap merupakan pendekatan ilmiah yang rasional


Khatimah
Ada tiga bentuk dakwah yang mesti harus dilakukan oleh organisasi dakwah modern saat ini adalah: (1) amar ma'ruf nahi munkar atau yang menjelaskan antara yang benar dan yang salah, halal dan haram sesuai dengan syari'at atau nilai Islam; (2) Meringankan beban penderitaan masyarakat yang menjadi sasaran dakwah dengan cara membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan mereka; (3) Melepaskan ummat dari belenggu-belenggu yang menghantuinya.

Dengan ketiga bentuk dakwah tersebut, maka diharapkan akan terjadi penyadaran (consciousness) objek da'wah dari kondisi yang tidak baik menuju kondisi yang lebih baik atau mengalami proses transformasi (perubahan) diri menjadi ummatan wasathon, atau ummat yang berperadaban, atau ummat yang mulia, atau khaira ummah.

Wallahu 'alamu bish-shawwab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar