Selasa, 23 Februari 2010

Karakteristik Dakwah Islamiyyah

Oleh: H. Anas Yusuf

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"
[QS Fushilat (40): 33]

Masyarakat atau umat Islam terus berkembang dan semakin cerdas seiring dengan perkembangan jaman, sedangkan tantangan silih berganti sebanding lurus dengan merosotnya moralisme akhlaq umat, sementara amanah dakwah sekaligus profesi dai dan da'iyah sebelum profesi lain (nahnu du'at qobla syar'i) tidaklah ringan dan proyek mega besar yang butuh energi panjang. Oleh karena itu sebagai seorang mujahid dakwah haruslah memiliki tashawur (persepsi-pandangan) yang jelas tentang garis-garis perjuangan dakwah lslamiyah yang merupakan aktualisasi iman.

Dakwah Islamiyah mempunyai karakteristik sebagaimana dien islam itu sendiri yaitu sebagai berikut:
1. Robbaniyah (Nilai-nilai Ilahiyah Ketuhanan)
Dakwah Islam harus berakar, bersumber dan berangkat dari nilai-nilai Ilahiyah murni tanpa dicampuri oleh nilai-nilai dan maksud tertentu dari sang penyeru (Dai atau mujahid dakwah). Dengan kata lain bahwa tidak ada penyimpangan dalam dakwah ketika menyampaikan risalah Islamiyah seperti contoh dakwah ilaina, dakwah ila hizb, dakwah ila qiyadah struktural, dakwah ila harokah, dan ila- ila selain Islam. Akan tetapi yang benar adalah kembali pada ashola (orisinalitas) dan keaslian dakwah itu sendiri yaitu dakwah ilallah dakwah ila rosul, dakwah ila islam (Qur'an wa sunnah) tanpa ada tambahan yang lain. Contoh kongkrit dakwah agama orang-orang Yahudi dan Nasrani mereka telah menciptakan tuhan-tuhan baru atau rahib-rahib melebihi otoritas Tuhan itu sendiri. Bentuk penyimpangan sekarang ini melanda kaum muslimin ditengah-tengah munculnya gerakan dakwah Islamiyah (Harakah Islamiyah) yaitu mengangkat anggotanya menjadi figure-sosok- tokoh-qiyadah-khayl-naqib dan dikultuskan, disanjung, ditaati sami'na wa 'atho'na dan ucapan/kalimatnya seakan-akan haram untuk ditolak sehingga menjadi Tuhan atau rahib-rahib kecil dalam aktivitas dakwahnya, sehingga yang terjadi adalah dalam lingkaran anggota jama'ahnya menjadi muqolit-muqolit yang setia tanpa batas. Dan ini sangat berbahaya karena lemah ilmu (QS. Al- Baqarah : 147 dan Al-Maidah : 67).

2. Syamilah Ghoiru Juuz'iyyah (Menyeluruh-sempurna Tidak Parsial).
Dakwah Islam harus bisa menyentuh seluruh sektor aspek kehidupan baik politik, economi, sosial, seni, hukum, keamanan, lingkungan, pendidikan hingga kebudayaan, sistem hingga akhlaq, dari sejak kita bangun tidur hingga kita tidur lagi, dari kehidupan dunia hingga akherat. Jadi cakupan islam dapat kita lihat dari beberapa dimensi wakku, demografis, geografis, dst. Karena pada hakekatnya seluruh yang ada di langit dan di bumi tunduk, taat, dan patuh-pasrah pada hukum-hukum atau aturan Allah (Qs.Al-Baqarah : 120). Jadi konsep ajaran islam itu tidak hanya berbicara ibadah mahdlonya tetapi juga ibadah ghoiru mahdonya.

3. Islam Qobla Jama'iyah (Kehidupan Islami sebelum bergabung dengan jama'ah)
Maksudnya adalah seorang muslim dituntut memahami, mengilhami mengenal, istigomah dan komitmen dengan ajaran islam secara totalitas. Integral kaffah dengan amal-amal Islam semaksimal mungkin (QS. Al-Baqarah: 208) sebelum ikut aktif bergabung dengan jama'ah atau harakoh Islamiyah, apapun namanya. Sebab kehidupan berjama'ah dalam harakoh Islamiyah akan berfungsi apabila didalamnya terdiri dari mereka yang memiliki komitmen moral dan operational dengan cara Islam yang benar. Kita bisa melihat dan menyaksikan bagaimana Rasulullah SAW mengkader dan mentarbiyah para sahabat sedemikian rupa sehingga masing-masing individu memperlihatkan amaliah Islami dan fanatik hanya pada Islam, bukan taklid, fanatik ashobiyah, kelompok hizbiyah, dst. Inilah fenomena gambaran kualitas para kader inti para sahabat sehingga digambarkan dalam Al- Qur'an surat Al Fath : 29 )." Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah tegas terhadap orang kafir tetapi tetap berkasih sayang sesama mereka".

4. Ilmiyah (Keilmuan).
Ilmiyah yang dimaksud adalah mencakup sistematika, obyektifitas dan metodologi dakwah. Dengan demikian obyek dakwah menerima dengan mudah, jelas dan gamblang sesuai dengan tingkat pemahaman mad'u dakwah (obyek dakwah) karena islam itu agama yang mudah dimengerti dengan sifat-sifat keilmuan obyektif.

5. Mu'ashirah Ghoiru Taqlibiyah (kontemporer tidak statis).
Ajaran Islam merupakan agama yang fleksibel dan tidak mungkin dilepaskan dari masalah-masalah kontemporer kekinian. Karena dakwah Islam itu harus mengiringi setiap proses Islamisasi di setiap disiplin ilmu. Maka setiap individu muslim harus memberi kontribusi dalam memainkan perannya untuk membangun peradaban ini tidak mungkin mencapai sasaran jika dilaksanakan secara individual, tetapi harus berjalan sesuai jama'ah dengan kerja kolektif. Semua potensi ummat harus menyumbangkan yang terbaik dari dalam dirinya untuk kemajuan Islam (lzzul Islam wal muslimin) menuju khilafah Islamiyah.

6. Mahaliyah Walamaliyah (Lokal dan Internasional).
Dakwah Islam harus bersifat International sesuai dengan sifat-sifat dasar Islam itu sendiri yaitu untuk seluruh manusia (kaffatan linnas) (QS, Al-Hujarat :13 ). Musuh Islam juga bersifat global (internasional), sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Anfal: 73 "Ada pun orang-orang kafir sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kaum muslimin tidak melakukan apa yang diperintahkan Allah SWT itu niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar" maka dari ayat ini kaum muslimin harus mempunyai sistem manajemen yang rapi dan teratur untuk penataan yang bersifat alamiyah (Internasional) (QS. Ash-shof : 4). Untuk itulah gerakan/harokah Islamiyah berskala international (Khilafah Islamiyah) berfungsi sebagai pengarah dan pengendali bagi gerakan-gerakan Islam lainnya.

7. Marhaliyah (Bertahap).
Amanah dakwah itu tidaklah ringan, akan tetapi penuh onak dan duri, ancaman dan cacian, ujian dan cobaan dst. Maka diharapkan mujahid dakwah (da'i) menjalankanya dengan proses tarbiyah yang bertahap, berfase-fase memakan waktu yang lama tidak tergesa-gesa (isti'jal ingin memperoleh hasil (natijiah), perlu proses dan proses.

8. Inqilabiyah Ghoiru Tarqi'iyah (Perubahan Fundamental bukan Tambal Sulam).
Perubahan fundamental menyangkut segi-segi penampilan, keyakinan, pemikiran perasaan, mental, dll. Perubahan fundamental hanya bisa dilakukan oleh gerakan Islam yang menyeluruh (kaffah) pula. Perubahan (pembedah) dan taqwa (QS. Al-Anfal 20).

9. Tawazun (Keseimbangan).
Ajaran-ajaran Islam seluruhnya seimbang dan memberi porsi kepada seluruh aspek kehidupan manusia secara proporsional. Tidak ada yang berlebihan atau kekurangan, tidak ada perhatian yang ekstrem terhadap satu aspek dengan mengorbankan aspek lain. Karena semua itu adalah satu kesatuan dan menjalankan fungsi yang sama dalam struktur kehidupan manusia. Itulah keseimbangan dalam Islam (Qs. Al - Qamar : 49)

10. Waqi'Iyyah (Realitas).
Islam diturunkan untuk berinteraksi dengan realitas-realitas obyektif yang nyata-nyata ada. Islam adalah idealisme yang realistik, tetapi juga realisme yang idealis (Qs. Al-An'aam: 95-96). Islam adalah konsep hidup yang ideal yang terdapat diimplementasikan dalam kehidupan yang nyata dengan segenap potensi yang dimilikinya (QS.Al-Baqarah : 286),

11. Insaniyah (Kemanusiaan).
Ajaran Islam mendudukkan manusia pada posisi kunci dalam struktur kehidupan ini. Manusia adalah pelaku yang diberi tanggung jawab dan wewenang untuk mengimplementasikan kehendak Allah di muka bumi sebagai khalifah (Qs. al-Isra':10). Islam datang untuk membebaskan manusia dari perbudakan sesama manusia (penghambaan). Umar bin Khattab berkata kepada 'amru bin ash saat putranya menampar wajah searang warga Qhibty (Kristen) "Sejak kapan kamu memperbudak manusia, padahal ibu-ibu mereka telah melahirkan mereka dalam keadaan bebas...?".

Karakteristik dakwah Islamiyah garis perjuangannya berfase-fase, memakan waktu yang lama, tidak tergesa- gesa ingin memperoleh hasil dari setiap persoalan, telah ada ketentuannya. Jika sistem metodologi dakwah ini dapat kita realisasikan dengan baik, insya Allah masa depan Islam akan lebih cemerlang. Dan akan segera terwujud kebangkitan islam (Shohwah Islamiyah).

Wallahu a 'lam bish shawab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar