Sabtu, 31 Juli 2010

Cak Nidhom yang Saya Kenal

Oleh: Nasrul Nasrullah

Mengenang Nidhom Hidayatullah, Sang Penggerak dan Pendobrak

Kami, kalangan Pemuda Muhammadiyah kota Malang, sering memanggilnya dengan sebutan “Cak”, ya Cak Nidhom. Nama lengkapnya Muhammad Nidhom Hidayatullah. Saya sendiri mengenalnya sejak saya mulai aktif di Angkatan Muda Muhammadiyah Malang tahun 1996. Saat itu cak Nidhom adalah tokoh muda Muhammadiyah yang sangat aktif dan berapi-api memberi spirit kepada adik-adiknya untuk terus berjuang melalui jalur Muhammadiyah. Saya sangat terkesan dengan cara-cara dia memupuk semangat, misalnya dengan mengajak keliling ikut pengajian, berdiskusi di semua situasi, terlibat dalam konsep ekonomi Islam, hingga dalam menerjemahkan buku-buku berbahasa Arab.

Waktu itu, Kamis 29 Juli 2010, sekitar pukul 08.15 WIB, saya dibangunkan istri saya lewat telepon dengan nada yg mengagetkan. Katanya, Cak Nidhom meninggal dunia. Saya yang sedang di Istanbul, Turki, waktu itu baru pukul 04.15 pagi, belum subuh. Kaget dan sempat terperanjat. Innalillahi wainna ilaihi raji’un….

Seminggu sebelumnya, istri saya meminta pendapat agar pengajian di kompleks perumahan saya di Malang diisi oleh Cak Nidhom. Pengajian menjelang Ramadhan itu akan diadakan besar-besaran, melibatkan penduduk kompleks perumahan dan penduduk kampung sekitarnya. Istri saya kebetulan menjadi panitia, mewakili saya yang tidak bisa terlibat karena masih harus di Turli hingga 10 Agustus. Ide itu sudah disampaikan kepada panitia, dan semua setuju. Pak Ali, tetangga depan rumah saya yang juga paman langsung Cak Nidhom yang diminta menghubungi Cak Nidhom yang juga Sekretaris MUI Kota Malang itu. Ternyata jadwal Cak Nidhom sudah penuh untuk hari-hari itu dan belum memastikan bisa tidaknya. Memang, tak mudah mengundang Cak Nidhom, apalagi waktunya mepet. Tapi pak Ali tetap ingin Cak Nidhom mengatur waktunya.

Mendengar informasi Cak Nidhom tidak bisa dihadirkan di pengajian kampung, saya terbersit untuk menghadirkan dia pada buka puasa di rumah. Dulu sudah pernah saya sampaikan langsung ke Cak Nidhom, dan dia menyanggupinya. Lama sekali saya ingin menjadi tuan rumah pengajian sekaligus buka bersama. Istri saya setuju, dan menunggu saya sendiri yang menghubungi Cak Nidhom nanti sepulang dari Turki nanti. Apa hendak dikata, baik pengajian kampung maupun pengajian buka puasa tidak akan bisa menghadirkan Cak Nidhom lagi. Bukan karena dia sibuk, tetapi Cak Nidhom sudah dipanggil lebih dulu oleh Allah SWT. Kita semua kehilangan anak muda yang sangat bersemangat memberi pencerahan umat itu.

Pertemuan terakhir saya dengan Cak Nidhom sudah agak lama, sekitar bulan April lalu. Waktu itu kami bertemu di Muspimwil Muhammadiyah Jatim. Kami melanjutkan diskusi mengenai rencana bukunya yang akan segera terbit, saya lupa judulnya, seingat saya buku itu membahas seputar panduan solat bagi suporter sepakbola. Menurut saya, ini ide unik dan agak gila, tetapi penting. Unik karena belum ada ‘fatwa’ soal solat bagi supporter. Gila karena sangat berani membuat panduan sementara belum ada ulama yang serius membahasnya. Dan penting karena buku itu mendesak mengingat menonton pertandingan sepak bola sering melewati dua atau tiga waktu solat yang tidak bisa dijamak, semisal Dhuhur, Asyar dan Maghrib. “Jadi perlu ada panduan yang praktis agar suporter tetap bisa menonton bola, tetapi tetap harus solat,” kata Cak Nidhom.
Untuk mensosialisasikan ide itu, saya mengusulkan agar segera didiskusikan pada forum yang agak serius. Kebetulan saya punya komunitas yang cocok, yakni Forum Rumah Baca Cerdas yang dipimpin pak Nazarudin Malik. Di perpustakaan milik Prof. Malik Fadjar itupun diskusi berlangsung. Dan, para peserta diskusi sangat antusias, apalagi waktu itu bertepatan dengan panas-panasnya laga Arema dalam Liga Super Indonesia. Ketika diskusi sepak bola dikaitkan dengan usaha agar suportenya tetap bisa solat di stadion tentu sangat menarik.

Tak hanya sampai di situ, saya menghubungi wartawan untuk memprofil Cak Nidhom di medianya. Bukan karena pribadi Cak Nidhom, tetapi idenya itu yang harus dibaca publik. Saya lupa mengecek apakah jadi diprofil atau belum, yang jelas wartawan yang saya kontak itu mengaku sudah melakukan wawancara dan menulisnya. Semoga saya bisa menemukan liputan itu nanti, dan membacanya.

Ide panduan solat bagi supporter itu hanya bagian kecil dari ide-ide Cak Nidhom yang memiliki kepribadian unik ini. Meski aliran pemikirannya sering dicap liberal, pergaulannya dengan ulama-ulama keras juga tetap terjaga baik. Dengan sesepuh Muhammadiyah, hingga dengan kalangan ulama NU sangat dekat. Sebagai ketua forum alumni Pondok Modern Gontor Malang, dia bisa menjaga kuat persaudaraan dengan sesama alumni untuk berbagai keperluan yang fungsional, tak hanya emosional, seperti membangun jaringan dakwah, pendidikan dan ekonomi. Dia sering menjadi motor penggerak gerakan social dan ekonomi, termasuk ketika masuk di dalam merintis Baitul Mal di Malang.
Pernah kakak saya di kampungnya, di Campurejo, Panceng, Gresik, meminta saya mendatangkan ulama muda untuk memotivasi warga agar lebih bersemangat berorganisasi. Waktu itu di sana kesadaran berdakwah secara berjamaah masih rendah. Ranting Muhammadiyah baru mau dirintis. Saya mengusulkan agar Cak Nidhom yang berceramah. Hasilnya, pengajian yang hanya disiapkan kecil-kecilan itu ternyata dihadiri lebih dari 500 orang. Pasca pengajian itu, semangat ber-Muhammadiyah langsung menguat. Organisasi terbentuk, amal usaha TK dan SD Muhammadiyah berdiri dengan swadaya. Rupanya provokasi Cak Nidhom kepada warga nelayan itu berhasil.

Tahun lalu, pada bulan Ramadhan, usai solat subuh saya dikagetkan dengan teriakan minta tolong dari rumah pak Ali, paman Cak Nidhom. Karena persis di depan rumah saya, suaranya sangat keras, dan saya dapati pak Ali sedang sekarat, pingsan usai solat subuh. Badannya menggigil dan sedikit kejang. Kontan seluruh tetangga terbangun dan segera menolong Pak Ali yang memang memiliki riwayat penyakit jantung dan stroke ringan itu. Kami membawanya ke rumah sakit, tetapi pak Ali sempat sadar sebelum mobil pak Ruci yang membawanya sampai di rumah sakit. Yang saya tau, keluarga yang saya kenal hanya Cak Nidhom, jadi saya menghubungi dia supaya menghubungi keluarga yang lain.

Kejadian itu terulang beberapa bulan kemudian. Di usia lebih dari 60 tahun, pak Ali masih sering nyetir mobil sendiri dan suatu hari dia pingsan di bengkel saat menyerviskan mobilnya. Istri dan anaknyapun panik menerima telepon yang dari nomor HP pak Ali yang mengabarkan kejadian itu. Oleh karena nomor Cak Nidhom ada di HP pak Ali, saya diminta oleh bu Ali untuk menghubungi Cak Nidhom agar segera ke lokasi bengkel. Alhamdulillah, dalam waktu yang sangat cepat ak Nidhom sudah ada di bengkel itu untuk menolong pak Ali. Pak Ali pun tertolong, dan sadar kembali. Pulang, dan seperti biasa, seperti tak ada kejadian apa-apa sebelumnya.

“Saya nitip pak Ali ya. Dia itu sering begitu, sakit-sakitan, tapi masih sering jalan-jalan sendiri. Nanti kalau ada apa-apa tolong hubungi saya,” kata Cak Nidhom meminta saya. Ternyata, dia sendiri yang justru mendahului pak Ali. Pak Ali malah nampak lebih sehat wal afiat sekarang.

Penyakit Cak Nidhom sudah lama sekali dideritanya. Dia sering kelelahan tetapi tidak digubrisnya. Apalagi sewaktu dicalonkan sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) pada 2004 mewakili Muhammadiyah Jawa Timur. Tak henti-hentinya dia keliling Jatim untuk mendekati konstituennya.

Puncak kelelahannya, sekitar lima tahun lalu, ginjalnya dinyatakan tak berfungsi dan harus diganti dengan alat yang mesti diganti cairannya tiap 8 jam. Jadi praktis, kemana-mana dia harus membawa kantung diperut yang terhubung ke saluran ginjalnya. Waktu menjenguknya di Rumah Sakit Syaiful Anwar lima tahun lalu, saya tidak bisa membayangkan bagaimana orang seenergik itu harus membawa kemana-mana kantung itu dan menggantinya tiga kali sehari. Dia sempat bercerita bahwa ginjalnya rusak akibat sering lelah dan mengonsumsi minuman energi dan berkarbonasi. Dia berjanji untuk menghentikan minuman-minuman ‘doping’ itu. Dan, ya, dia berhasil menghentikannya, tetapi tidak bisa menghentikan atau setidaknya mengurangi aktivitasnya di bidang dakwah dan sosial. Kemana saja dia diundang, dia akan berangkat, datang sendiri, menyetir sendiri.
Mantan ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Abdul Mu’thi pernah berkelakar, jika saja ginjal Nidhom masih utuh, tentu dia akan lebih keras ketika ngaji. “Untunglah Allah membatasi gerak-gerik dia supaya tidak terlalu garang,” kata Mu’thi usai member pengajian di PDM Kabupaten Malang. Waktu itu Cak Nidhom memang memberi prolog yang agak keras terkait hubungan politik dan Muhammadiyah, terutama hubungan dengan pemerintah. Saya yakin, perihal ginjal buatan itu, tak sekali itu saja menjadi bahan guyonan ulama yang kaya akan joke-joke segarnya itu. Cocok dengan karakter mas Mu’thi yang juga pandai membuat guyonan kritis dan cerdas.

Kini saya hanya bisa mengenang masa-masa itu. Masa di mana Cak Nidhom memberi nasehat, membuat lelucon, memecahkan kebuntuhan berfikir, mendobrak kebekuhan organisasi. Dengan tetap bersahaja dan gaya hidup apa adanya. Saya ingat, waktu dia singgah di rumah saya di Paciran, Lamongan, bersama teman-teman AMM Malang usai acara Pemuda Muhammadiyah di Tuban, sekitar tahun 1997. Dia bersama teman-teman bisa menikmati makanan sederhana yang kami sajikan, hanya nasi dan ikan laut. Dia menyatakan kesannya, bahwa banyak orang Paciran yang cerdas, justru karena konsumsi ikannya tinggi. “Orang Paciran senang sekali memakan kepala ikan, dan itu proteinnya sangat tinggi, bagus untuk kecerdasan. Makanya sering-sering makan kepala ikan,” katanya waktu itu kepada saya usai menghabiskan beberapa ekor ikan yang disajikan keluarga saya.

Selamat jalan Cak Nidhom, selamat jalan pejuang Islam terbaik yang pernah dimiliki Muhammadiyah Malang. Semoga akan banyak muncul penerusmu memperjuangkan agama Allah. Semoga jalanmu senantiasa diiringi Allah, segala amalmu diterima dan dosa-dosamu diampuni-Nya. Amin.

1 komentar:

  1. Selama kurang lebih 1 tahun mengikuti kegiatan yg dilakukan Muhammadiyah (AMM dan lain-lain) saya mendapatkan beberapa ilum yg moderen namun tidak mendapatkan persaudaraan dan keguyuban...
    Sayang sekali kemoderatan yg ada pada Muhamamdiyah tidak dibarengi sikap ramah tamah dan santun serta melihat situasi dan kondisi masyarakat.
    Semoga ke depan bisa lebih baik lagi.

    BalasHapus